home edukasi & pesantren

Fondasi Pemikiran, Berikut 3 Tingkatan Akal Menurut Ibnu Khaldun

Kamis, 13 Januari 2022 - 20:00 WIB
Filsuf muslim Ibnu Khaldun. Foto: Istimewa.
Manusia berbeda dengan hewan dengan keistimewaan-keistimewaan yang ia miliki. Di antaranya adalah ilmu dan berbagai keahlian yang merupakan buah akal dan pikiran yang menjadikan manusia berbeda dan karenanya dimuliakan di atas makhluk-makhluk yang lain.

Filsuf muslim, Ibnu Khaldun memosisikan akal sebagai alat dalam diri manusia untuk memahami fenomena kehidupan serta nash-nash Alquran dan hadits. Kolaborasi akal dan wahyu merupakan fondasi dalam pembangunan pemikiran Islam.

Dengan demikian, Islam tidak membiarkan akal berjalan tanpa arah, karena jalan yang merentang di hadapannya bermacam-macam. Dari sanalah kemudian manusia dapat merumuskan berbagai konsep ilmu, hukum, dan menelurkan ragam keahlian yang berguna untuk menjalani hidup yang layak.

Baca Juga:Mengenal Ibnu Khaldun, Bapak Sejarah dan Sosiolog Modern

Ibnu Khaldun menjelaskan, perkembangan akal manusia sangat dipengaruhi kondisi geografis, lingkungan, adat istiadat, kebudayaan, sosial, hingga keadaan ekonomi suatu wilayah. Ia juga menghubungkan pengaruh makanan terhadap tubuh yang ujung pangkalnya, apakah menutup atau memaksimalkan fungsi akal.

Ibnu Khaldun menyatakan, lapar itu berpengaruh terhadap tubuh dan akal karena lapar akan menjernihkannya dan memperbaikinya. Panganan yang baik dan sehat akan membuat tubuh prima dan menumbuhkan akal pikiran.

Ibnu Khaldun mengklasifikasikan kesanggupan berpikir manusia ke dalam tiga tingkatan. Pertama, akal pembeda (al-‘aql ut-tamyizi). Akal ini membantu manusia membedakan mana yang baik dan buruk, bermanfaat atau tidak, pada tahap ini, dapat dikatakan bahwa manusia, dari sisi mental, baru beranjak pada tahapan setingkat di atas dengan binatang.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
filsuf ibnu khaldun
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya