Langit7, Depok - Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) menjalin kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi untuk mendorong lahirnya wirausaha baru.
Kerja sama Kemenkop UKM itu meliputi penandatanganan nota kesepahaman bersama Universitas Indonesia, Universitas Sumatera Utara, Universitas Andalas, Universitas Sam Ratulangi, dan Universitas Lambung Mangkurat.
Selain mendorong lahirnya wirausaha baru, langkah itu juga dilakukan pemerintah demi memperkuat ekonomi dan menciptakan lapangan kerja.
Baca juga: Kemenkop UKM Dukung Kelahiran Wirausaha Muda SyariahAdapun ruang lingkup Nota Kesepahaman tersebut mencakup pendidikan dan pelatihan, pendampingan, pemagangan dan pengembangan di bidang UMKM dan kewirausahaan. Riset, penelitian, inovasi, dan hilirisasi riset serta pertukaran dan pengolahan data dan/atau informasi.
Pengabdian kepada masyarakat dan pelaksanaan program Merdeka Belajar, Kampus Merdeka dan Kuliah Kerja Nyata Tematik. Juga penyediaan kurikulum di bidang perkoperasian, UMKM, dan kewirausahaan.
"Dalam persaingan global, kita harus menyiapkan UMKM yang berasal dari enterpreneur muda. Jika produk UMKM saat ini tidak punya daya saing dan inovasinya rendah, pasti akan kalah," kata Menkop UKM, Teten Masduki saat Penandatanganan Nota Kesepahaman Kementerian Koperasi dan UKM dengan 5 Perguruan Tinggi tentang Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Depok, Rabu (19/1).
Jumlah
entrepreneur di Indonesia saat ini masih terbilang rendah, atau hanya 3,47 persen. Untuk itu, inkubator di perguruan tinggi menjadi solusi untuk mencetak entrepreneur muda yang berdaya saing di pasar global.
Baca juga: Menkop UKM: Ajang MotoGP Mandalika 2022 Bakal Gairahkan UMKMTujuan dibentuknya inkubasi di perguruan tinggi, tidak lain untuk melahirkan bisnis yang inovatif dan unggul.
"UMKM masih banyak yang berurusan dengan keripik dan dodol. Kalau ini masih banyak, ya celaka. Jadi harus diseleksi betul dan harus melirik keunggulan domestik kita. Konsep inkubasi ini diharapkan terkoneksi dengan pembiayaan dan market. Selain kita erami, kita juga harus entaskan dan besarkan," kata Teten.
Ke depan, lanjut Teten, pihaknya bakal membidik modal ventura untuk masuk ke UMKM. Menurutnya, modal ventura ini dapat menyuntik pembiayaan dan memperbaiki manajemen UMKM.
"Penting bagi universitas untuk menyiapkan mahasiswanya menjadi entrepreneur. Mudah-mudahan kita bisa memperkuat struktur ekonomi dengan wirausaha baru yang kompetitif. Kita sedang siapkan Perpres kewirausahaan agar punya arahan yang jelas untuk pengembangan ini," katanya.
Di tempat yang sama, Rektor Universitas Indonesia (UI), Ari Kuncoro mengatakan, melalui inkubasi, pihaknya telah berhasil mencetak 119 wirausaha berbasis start up yang bekerja di sektor IoT, kesehatan,
fintech, perikanan, busana tradisional, kuliner, dan lainnya.
"Kami berkomitmen membangun wirausaha di Indonesia. Kami juga mendorong dosen dan mahasiswa untuk terlibat aktif dalam kegiatan bersama mitra industri, pemerintah dan komunitas.," ujar Ari.
Sementara itu, Rektor Universitas Sumatera Utara, Muryanto Amin menambahkan, transformasi di perguruan tinggi tidak hanya mencakup teaching dan research, tapi juga mampu menjadi inkubator.
"Kami harap ada tindak lanjut yang intens untuk memperkuat proses bisnis dengan UMKM di Sumatera Utara," ucap Muryanto.
Baca juga: Pemerintah Indonesia-Korea Selatan Dorong Lahirnya Startup Berbasis Bisnis HijauLebih lanjut, Rektor Universitas Andalas Yuliandri menegaskan bahwa pihaknya telah melakulan inkubasi terhadap 30 pelaku UMKM berbasis kelapa sawit, 31 start up, 4 industri kecil berbasis bahan alam, dan lainnya.
"Kami siap berkolaborasi dengan pemerintah untuk mengembangkan wirausaha muda dan melahirkan UMKM masa depan," tambahnya.
(zul)