LANGIT7.ID, Jakarta - Universitas Al-Azhar menjadi salah satu perguruan tinggi Islam yang berada di Kairo, Mesir. Kampus yang termasuk pusat intelektual tertua di dunia itu didirikan oleh Dinasti Fatimiyah (909-1171 M).
Al-Azhar berawal dari sebuah masjid yang dibangun pada 970-972 M. Nama Al-Azhar merujuk pada nama putri Nabi Muhammad SAW, Fatimah Az-Zahra.
Mengutip laman
Muslim Heritage, Al-Azhar pada mulanya merupakan universitas kecil yang bertujuan menyebarkan ajaran Syiah di Mesir. Namun, keberadaan Al-Azhar tidak begitu penting, karena mayoritas umat Islam fokus di Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan Islam.
Di Baghdad, banyak ulama-ulama terkenal yang hingga kini menjadi rujukan seperti Abu Hamid Al-Ghazali, Abu Ishaq Al-Isfara'ini, Al-Juwayni, hingga Abu Bakr Al-Baqillani, Bagi sebagian umat Islam, Al-Azhar tidak begitu penting karena tak sekuat sekolah-sekolah Islam di Baghdad.
Selain itu, Fatimiyah dianggap sebagai dinasti Syi'ah, sebuah sekte sesat yang menyerupai ajaran Islam. Pandangan ini dikeluarkan oleh ulama-ulama Baghdad mengenai keberadaan Fatimiyah.
Ulama-ulama Sunni mendeklarasikan kesesatan Dinasti Fatimiyah yang diprakarsai Abu Ishaq. Deklarasi itu membuat Al-Azhar tidak bisa berkembang selama masa pemerintahan Dinasti Fatimiyah.
Saat Khalifah Salahuddin Al-Ayyubi merebut kekuasaan Dinasti Fatimiyah pada 1171 M, kegiatan belajar-mengajar di Masjid Al-Azhar sempat terhenti sementara. Lalu, pada masa pemerintahan Dinasti Mamluk, 1260 M, Al-Azhar difungsikan kembali sebagai pusat ilmu pengetahuan.
Al-Azhar menjadi sebuah perguruan tinggi berkat usulan Perdana Menteri Izz Al-Din Aydmer. Ia mengusulkan kepada penguasa Mamluk untuk memperbaharui masjid Al-Azhar. Sultan menyambut baik usulan itu dan menyediakan dana untuk merenovasi masjid.
Setelah itu, dia mengusulkan agar Al-Azhar dijadikan tempat shalat Jumat. Usulan ini sempat ditolak. Namun, ia mendorong para ulama menjadikan Al-Azhar sebagai pusat penelitian mereka. Ini yang membuat Al-Azhar terlahir kembali pada masa Kesultanan Mamluk.
Saat bangsa Mongol kalah dalam perang Ain Jalut pada Ayn Jalut pada 3 September 1260 M, Sultan Baibars (Sultan Mamluk) mengundang keluarga Abbasiyah yang telah dihancurkan oleh Mongol.
Langkah ini membuat banyak ulama dari timur bermigrasi ke Mesir karena menghindari Mongol. Di sisi lain, pelajar-pelajar dari Barat juga berdatangan ke Al-Azhar untuk belajar. Ini karena Kesultanan Mamluk menjadi kekuatan muslim terbesar kala itu.
Hingga pada 1930 M, Al-Azhar menjadi universitas yang menerbitkan beberapa jurnal-jurnal ilmiah. Pada 1950 berkembang pula beberapa fakultas Ushuluddin, Islam, dan fakultas bahasa Arab. Hingga kini, Al-Azhar menjadi duta Ahlussunnah di seluruh dunia.
(jqf)