LANGIT7.ID, Kab. Bintan - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meluncurkan pelepasan ekspor perdana tahun 2022 smelter grade alumina produksi PT Bintan Alumina Indonesia di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Penyetopan ekspor bahan mentah menjadi langkah maju dalam hilirisasi industri.
Dalam sambutannya, Jokowi mengapresiasi perusahaan yang berani melakukan hilirisasi industri bahan mineral dan tambang. Menurutnya, hilirisasi industri sangat penting dilakukan dengan mulai menghentikan ekspor bahan mentah.
Baca juga: Presiden Jokowi Apresiasi Capaian Vaksinasi di Kepulauan Riau"Sejak 350 tahun lalu saat masih di jajah, yang kita ekspor selalu bahan mentah dan enggak berhenti sampai sekarang. Seperti tadi disampaikan oleh Pak Airlangga Hartarto, harusnya bisa 15 kali lipat hanya dijual 30 tadi. Padahal kalau menjadi barang jadi bisa 700. Ini enggak bisa diteruskan," kata Jokowi dikutip dari laman YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (26/1).
Dalam hal ini, Jokowi telah memerintahkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan untuk menyetop ekspor bahan mentah sejak tahun 2020. Presiden ingin Indonesia mulai mengekspor bahan setengah jadi maupun bahan jadi untuk meningkatkan nilai tambah dari produk tersebut.
Pada kesempatan itu, Jokowi juga menceritakan kunjungannya ke Kabupaten Muara Enim dalam rangka peletakan batu pertama proyek hilirisasi batu bara menjadi dimetil eter (DME). Jokowi mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk melakukan hilirisasi industri tersebut.
Baca juga: Bertemu PM Singapura, Presiden Jokowi Bahas Isu Myanmar"Kita punya bahan baku banyak sekali, gede sekali, kita malah impor elpiji Rp80-an triliun setiap tahun. Terlalu nyaman kita ini, terlalu enak kita ini. Negara lain yang dapat nilai tambahnya, dapat lapangan kerjanya, dapat pajaknya juga," tegas Jokowi.
"Coba kalau kita buat industri seperti ini kita dapat royaltinya, pajak perusahaan dan pribadinya, dapat penerimaan negara bukan pajak, semua bisa kita dapatkan. Yang paling penting membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya. Kemarin di Konawe 27.000, di Morowali 45.000, ini yang dibutuhkan rakyat," jelasnya.
Lebih lanjut, Jokowi menegaskan bahwa pemerintah tetap menghentikan ekspor minerba dalam bentuk bahan mentah sekalipun mendapatkan protes dari berbagai negara melalui Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). "Dengan risiko apapun satu persatu akan saya stop. Nikel ore stop ini kita digugat oleh WTO silakan gugat. Nanti stop bauksit, mesti ada yang gugat lagi silakan gugat enggak apa-apa kita hadapi," imbuhnya.
Baca juga: Presiden Jokowi Groundbreaking Proyek Hilirisasi Batu Bara Jadi DME(asf)