LANGIT7.ID, Jakarta - Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, mengatakan, hubungan Islam dengan politik global mendapat perhatian besar dari banyak peneliti dunia, termasuk para orientalis.
Dia menyebut ada empat sumber daya yang dimiliki oleh Islam dan Dunia Islam yang membuat para peneliti itu tertarik. Pertama, Islam menjadi agama yang banyak dianut oleh masyarakat dunia.
Mengutip data Rabithah A'lam Al Islami, Din menyebut jumlah pemeluk Islam di seluruh dunia mencapai 1,7 miliar jiwa. Jumlah itu dari tahun ke tahun terus mengalami pertumbuhan, terkhusus di negara-negara minoritas muslim.
Agama Islam mengalami pertumbuhan pemeluk yang signifikan. Jika saat ini sekitar 23 persen dari penduduk dunia merupakan musim, ke depan diperkirakan akan mencapai 30 persen.
Kedua, sumber daya alam (SDA) yang dimiliki oleh negara-negara mayoritas Islam. Posisi itu kian diperkuat karena sumber daya alam yang dimiliki merupakan SDA yang dibutuhkan dunia.
Ketiga, dunia Islam juga memiliki sumber daya nilai. "Jadi, (selain)
human resources dan
natural resources, yang ketiga ini katakanlah dalam bahasa Inggris
value resources. Ajaran Islam yang menggerakkan dan mendorong kemajuan peradaban," kata Din, dikutip laman resmi Muhammadiyah, Senin (31/1/2022).
Sumber nilai itu, kata dia, sangat kuat mendorong peradaban dunia ke arah berkemajuan. Jika Islam dibedah dari sumber utamanya, Al-Qur'an dan Hadits, akan ditemukan semangat berkemajuan.
"Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada agama dengan kitab sucinya yang paling kuat menghargai waktu kecuali Islam dengan Al-Qur'an. Bahkan di Al-Qur'an, Allah bersumpah di atas waktu dan bukan cuma sekali," kata Din.
Bahkan, ritual ibadah dalam Islam tidak seperti di agama lain. Ibadah dalam Islam sangat berkaitan dengan waktu. Itu membawa pesan betapa Islam mendorong umat muslim memanfaatkan waktu untuk mencapai kemajuan.
Keempat, sumber daya sejarah atau
history resources. Islam pada suatu masa pernah memegang supremasi peradaban dunia, meski memang masih ada kesenjangan antara idealitas dan realitas.
"Inilah yang membawa pengamat antara orientalisme lama sampai yang terakhir itu memandang Islam dan Dunia Islam sebagai sesuatu yang penting, dan apalagi dinamika yang signifikan," tutur Din.
(jqf)