LANGIT7.ID-Ketua Umum
PP Muhammadiyah 2005-2010 dan 2010-2015,
Prof. Dr. H. Din Syamsuddin, M.A. dalam
Pengajian Hari Bermuhammadiyah di Jakarta, Sabtu (5/7), mengingatkan sebuah nilai luhur yang mulai meredup: etos
fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan, dengan semangat menjadi yang terbaik.
Berlomba dalam kebaikan, menurut Din, bukan sekadar mengikuti jejak atau sekadar “ada” di antara orang-orang baik. Bukan pula sekadar puas karena sudah berbuat sesuatu. Melainkan mengejar keunggulan, bertekad untuk berada di garis depan dalam karya-karya kebaikan. Dalam bahasa Din, bukan hanya ikut-ikutan, tetapi mengejar posisi terdepan, menjadi juara dalam kebaikan.
Pesan itu terasa menohok jika kita jujur menengok kondisi saat ini. Muhammadiyah yang dikenal sebagai pelopor dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan layanan sosial kini seakan berjalan di jalur datar, terjebak pada zona nyaman prestasi masa lalu. Padahal sejarah membuktikan, keberhasilan Muhammadiyah lahir dari keberanian bermimpi besar, bekerja keras, berani mengambil risiko, dan “cemburu positif” melihat keberhasilan pihak lain.
Baca juga: Din Syamsuddin Ajak Masyarakat Tak Bosan Memakmurkan Masjid Kisah-kisah yang disampaikan Din tentang ibu-ibu Aisyiyah yang mendirikan Himpunan Janda Muslimah, atau rumah sakit yang didirikan untuk menandingi layanan yang sudah lebih dulu ada, adalah contoh nyata etos fastabiqul khairat yang membakar semangat. Kala itu, ada dorongan untuk tidak kalah, bahkan melampaui apa yang telah dilakukan orang lain, tentu dalam kebaikan.
Kini, semangat itu seperti meredup, tergantikan oleh rasa puas diri. Amal usaha yang sudah besar kadang justru menjadi beban karena kehilangan visi yang lebih jauh ke depan. Dalam banyak kesempatan, lebih terasa upaya mempertahankan, daripada menciptakan terobosan baru.
Di tengah dinamika zaman yang makin kompetitif, pesan Din perlu direnungkan: *kalau orang lain bisa, kita harus bisa lebih baik.
Umat Islam — dan kader Muhammadiyah khususnya — harus kembali menghidupkan gairah itu: gairah beragama dengan nuansa cemburu positif. Bukan untuk sombong, tetapi untuk memastikan bahwa nilai-nilai kebaikan benar-benar hadir sebagai solusi nyata di tengah masyarakat.
Tegasnya bahwa fastabiqul khairat bukan hanya slogan Qur’ani yang indah didengar. Ia adalah ajaran yang menuntut keberanian bermimpi, kerja keras tanpa lelah, dan keyakinan bahwa kebaikan itu tidak mengenal batas. Berlomba dalam kebaikan berarti tidak pernah puas dengan capaian hari ini.
Baca juga: Presiden Prabowo- Prof Din Syamsuddin Bertemu, Keduanya Berkawan Dekat Jika saat ini Muhammadiyah, dan umat Islam pada umumnya, hanya berpuas diri dengan warisan masa lalu, itu justru sebuah kemunduran. Zaman terus berubah, tantangan terus datang, dan kebutuhan masyarakat terus berkembang. Maka, jangan hanya ikut lomba. Jadilah pemenang. Seperti yang diingatkan Al-Qur’an: fastabiqul khairat.
(mif)