LANGIT7.ID, Jenewa - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, jarum suntik bekas, alat uji bekas, dan botol vaksin bekas sudah menumpuk untuk menghasilkan puluhan ribu ton limbah medis. Itu mengancam kesehatan manusia dan lingkungan.
Limbah tersebut berpotensi membuat petugas kesehatan mengalami luka bakar, luka tertusuk jarum suntik, dan kuman penyebab penyakit. Ini tentu menjadi masalah baru jika tidak ditangani segera dan sebaik mungkin.
“Kami menemukan bahwa Covid-19 telah meningkatkan beban limbah perawatan kesehatan di fasilitas hingga 10 kali lipat,” kata petugas teknis WHO, Maggie Montgomery, petugas teknis WHO, dikutip
Reuters, Rabu (2/2/2022).
Risiko terbesar dari masalah ini polusi udara akibat pembakaran sampah pada suhu yang tidak cukup tinggi. Itu bisa menyebabkan pelepasan karsinogen.
Montgomery lalu meminta pihak terkait mengevaluasi dan mengurangi penggunaan kemasan untuk mengurangi sampah plastik. Dia menganjurkan alat pelindung kesehatan dengan bahan bisa didaur ulang kembali.
WHO memperkirakan, sekitar 87.000 ton alat pelindung diri (APD) atau setara dengan berat beberapa ratus paus biru, telah dipesan melalui portal PBB hingga November 2021. Sebagian besar diperkirakan berakhir sebagai limbah.
Sekitar 140 juta alat uji dengan potensi menghasilkan 2.600 ton sampah plastik dan limbah kimia. Itu cukup untuk mengisi sepertiga kolam renang Olimpiade.
Selain itu, diperkirakan sekitar 8 miliar dosis vaksin yang diberikan secara global telah menghasilkan tambahan 144.000 ton limbah dalam bentuk botol kaca, jarum suntik, jarum, dan kotak pengaman.
Montgomery mengatakan, persepsi masyarakat tentang penularan Covid-19 dari benda-benda yang mudah disentuh harus dievaluasi. Sebab, itu membuat masyarakat berlebihan menggunakan alat pelindung, seperti sarung tangan.
"Kita semua pernah melihat foto pakaian bulan, kita semua pernah melihat foto orang yang divaksinasi dengan sarung tangan. Tentu saja secara keseluruhan orang-orang memakai APD yang berlebihan," ucapnya.
Namun, WHO tidak menyebutkan contoh spesifik tempat penumpukan paling mengerikan terjadi. Tetapi merujuk pada tantangan seperti pengolahan dan pembuangan limbah yang terbatas di pedesaan India serta sejumlah besar lumpur tinja dari fasilitas karantina di Madagaskar.
Bahkan sebelum pandemi, sekitar sepertiga fasilitas kesehatan tidak dilengkapi untuk menangani beban limbah yang ada. Itu terjadi 60 persen di negara-negara miskin.
(jqf)