Langit7, Jakarta - Perbedaan kualitas produksi antara skala laboratorium dengan skala industri menjadi salah satu penyebab hilirisasi riset tidak selamanya berjalan mulus.
Untuk itu, Dosen Departemen Teknologi Industri Pangan Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran, Nandi Sukri melakukan hilirisasi riset dengan model “Industri Hybrid”.
Dilansir unpad.ac.id, model ini dinilai mampu mempercepat hilirisasi riset, khususnya bidang pangan, di tingkat industri.
"Hilirisasi riset menjadi tantangan yang harus diwujudkan akademisi di perguruan tinggi. Tantangan yang dihadapi adalah meningkatkan produksi skala laboratorium menjadi skala industri besar dengan rasa produk yang konsisten," ujar dia dalam keterangannya.
Baca juga: Upaya Pemerintah Perkuat Ekonomi Lewat Sektor Properti dan OtomotifTantangan lainnya, lanjut dia, tidak semua riset mampu menjawab apa yang dibutuhkan pelaku industri. Sebab, industri memiliki pertimbangannya sendiri, seperti besaran profit yang diperoleh jika produk riset ini diproduksi dalam skala besar.
Di sisi lain, pelaku industri juga belum sepenuhnya tertarik memproduksi produk hilirisasi dengan skala menenengah. Untuk itu, dibutuhkan jembatan yang dapat mengakomodasi kualitas produksi dari produk riset sebelum siap dilempar ke pasar yang lebih besar.
"Industri hybrid dapat membantu hilirisasi riset dasar. Dikatakan hybrid karena pengelola atau praktisinya merupakan akademisi atau penelitinya langsung," katanya.
Dalam hal ini, peneliti sebagai perekayasa produk di level menengah, juga dapat menjadi pengambil keputusan secara langsung.
"Singkatnya, pada industri hybrid, peneliti juga berperan sebagai pembaca pasar, menyusun model bisnisnya, hingga melakukan rekayasa produk agar bisa konsisten, tidak berubah parameternya, dan kompetitif di pasar," sambungnya.
Baca juga: Implementasi Kebijakan Pemerintah untuk Pelaku Usaha KorporasiNandi menambahkan, ketika nantinya produksi di skala menengah melalui industri hybrid sudah berjalan baik, maka dapat dilanjutkan ke skala industri besar. Diharapkan, peningkatan kapasitas di skala besar tidak banyak mengubah parameter riset yang dihasilkan.
Selain itu, diharapkan model industri hybrid ini juga dapat diaplikasikan di bidang keilmuan lainnya. Gap besar antara riset laboratorium dan industri diharapkan dapat berkurang.
“Terkadang kita melewatkan tahapan ini. Kalau dari skala lab di-scale up langsung ke industri besar, kadang-kadang kita tidak optimistis dan parameternya banyak berubah,” tambahnya.
Baca juga: Banyak Tantangan, Ini Langkah OJK Perkuat Sektor Jasa Keuangan(zul)