LANGIT7.ID, Jakarta - Kopi, dulu hanya dianggap hidangan minuman bagi kalangan orang tua. Seiring perkembangan zaman, kopi kini sudah dijadikan gaya hidup dan dinikmati oleh generasi milineal. Kopi juga salah satu produk hasil bumi yang digemari di dunia, termasuk di Amerika Serikat.
Seperti yang ramai diperbincangkan belakangan ini, kedai kopi yang berada di daerah Cipete, Jakarta Selatan, Dua Coffee. Kedai kopi ini menyajikan menu yang memiliki rasa cita tinggi. Tidak mengherankak, Dua Coffe ini sudah membuka cabangnya di Washington DC, Amerika Serikat.
Menariknya, Dua Coffe memiliki pelanggan tetap yang bukan orang sembarangan. Ia adalah suami dari Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris, Douglas Emhoff.
Dalam postingan instagram @sandiuno diperlihatkan, Douglas Emhoff datang membeli kopi di Dua Coffe dan meminumnya. Dalam penggalan video itu pula, kebiasaan Douglass meminum kopi menjadi kegiatan sehari-hari sebelum melakukan aktivitasnya.
“Salah satu pelanggan setianya adalah The Second Gentleman of United States @douglasemhoff yang sudah menjadi rutinitas di pagi harinya menyantap kopi Indonesia. Bangga guys,” tutur Sandi.
![Dari Cipete Hingga Amerika, Kedai Kopi Ini Pelanggannya Suami Wapres Kamala Harris]()
Douglas Emhoff suami Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris pelanggan tetat Dua Coffee
Didirikan oleh dua pengusaha muda Indonesia, Rinaldi Nurpratama dan Omar Karim. Dibuka sejak 2016 lalu, perkembangan Dua Coffee cukup signifikan, selain Washington DC, kedai kopi milik Aldi dan Omar ini juga telah membuka cabangnya di beberapa kota di Indonesia, seperti Bandung, Bintaro, Tasik, dan Bogor.
“Dari riset di 2016, saat itu disebutkan ada tiga bisnis yang akan booming dalam lima tahun ke depan adalah, makanan sehat, pusat kebugaran dan yang terakhir ruang sosial ketiga, setelah rumah dan kantor, ya cafe seperti inilah yang dimaksud,” kata Omar dikanal Youtube OChannel TV.
Omar mengaku bisnisnya ini sudah bisa balik modal saat berjalan 1,5 tahun. Hingga kini, Dua Coffee direncanakan masih akan terus melebarkan sayap bisnisnya.
“Kalau penghasilan bulanan, dari Cipete aja omzetnya kira-kira bisa beli mercy, kalau bersih sekitar 20-30 persennya lah,” kata Omar.
Walaupun sebenarnya Omar dan Aldi sudah memiliki mimpi untuk membuka cabang di luar negeri, tapi pusat kota Amerika Serikat adalah tempat yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.
Berawal dari sebuah acara yang dibuat oleh Wonderful Indonesia, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Dua Coffee saat itu menjadi perwakilan dari Indonesia dengan membuka stan kopi di sana, tepatnya pada acara New York Times – Travel Show 2018. Tidak disangka, antrian warga Amerika Serikat kala itu membludak.
Sehingga mereka berdua mulai merencanakan secara matang untuk membuka cabang di sana. Melalui riset panjang dan jaringan yang dimilikinya, akhirnya mimpi itu terwujud bertepatan dengan kemerdakaan Indonesia pada 17 Agustus 2019.
“Kita ketemu sama warga Indonesia yang tinggal di sana, Irfan dan Pipit, mereka coffeeholic dan menawarkan kerjasama untuk buka cabang bisnis kopi di sana. Akhirnya mereka berdua jadi partner bisnis kita. Kita jadi The First Indonesian Coffee in Capital United States,” ujarnya.
Di sana, kata Omar, ia juga menghadirkan keramahtamahan khas Timur Indonesia dalam pelayanan kepada konsumen Amerika Serikat. Menurutnya, hal itu dilakukan sebagai bentuk strategi marketing untuk tetap menjaga loyal konsumen.
Nama Dua Coffee sendiri memiliki filosofi yang mendalam bagi keduanya. Selain bermakna didirikan oleh dua orang, kata “Dua” ini juga berarti sebuah doa yang di dalamnya terdapat harapan bagi seluruh karyawannya, termasuk Omar dan Aldi.
“Dua Coffee, selain karena ownernya Omar dan Aldi, kita juga sempat muncul pertama kali di Cipete Dalam Nomor 2. Dibalik itu semua, “Dua” itu artinya juga doa harapan kita semua warga dua (sebutan bagi pekerja Dua Coffee) untuk bisa mencapai harapannya masing-masing di sini,” jelas Omar.
Dalam perkembangannya, Omar mengaku Dua Coffee sempat mendapatkan masa sulit di awal delapan bulan pertamanya. Hal ini dikarenakan tempat yang saat itu dipilih relatif kecil dan berada di pojokan Cipete.
“Gua sama Aldi sempet patungan untuk bayar gaji warga dua di tim pertama kita. Dari situ gua belajar dan riset ulang karena kita berdua tidak punya background kopi. Gua bukan peminum kopi apalagi barista, karena kalau kita lihat teman-teman senior itu kan awalnya barista dulu, pecinta kopi yang gila-gilaan, nah kita berdua bukan dari golongan itu,” jelasnya.
Memutuskan pindah ke lokasi yang lebih besar. Dengan keyakinan yang diiringi kekhawatiran terkait perkembangan bisnis kopinya, akhirnya Dua Coffee berhasil menjadi pilihan lidah masyarakat pecinta kopi.
“Bleedingnya itu pas delapan bulan awal gua ngerasa ga worth, akhirnya kita pindah ke tempat yang lebih gede. Walaupun gambling juga tapi kita sudah melakukan riset yang lebih proven. Faktor yang bikin di awal itu kita perbaiki, dan Alhamdulillah ketika pindah kita mulai take off,” jelasnya.
![Dari Cipete Hingga Amerika, Kedai Kopi Ini Pelanggannya Suami Wapres Kamala Harris]()
Sementara Aldi mengaku, awal membuka bisnis kopi ini karena ia dan Omar sudah sama-sama bosan hidup bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan. Mereka berdua ingin memberika sesuatu yang berbeda dalam hidup selain menjadi karyawan, yaitu menjadi orang yang bermanfaat untuk banyak orang.
“Jujur modal awal cuma nekat. Berdua dengan Omar kita ngobrol soal bisnis dan dibantu mentor kita Mas Agam (pendiri Anomali Coffe, Muhammad Abgari). Di situ dia sarankan untuk buka bisnis kopi,” ujarnya dikanal Youtube Ben Kasyafani.
Ia mengaku memiliki visi dan misi yang sama dengan Omar, yaitu dengan menjadi orang yang bermanfaat bagi banyak orang. Baginya, dengan mengurangi angka pengangguran adalah tindakan yang bisa ia lakukan untuk mencapai visinya.
“Kita gak pengen banyak orang pengangguran, karena semakin banyak pengangguran akan banyak kriminal juga di situ. Jadi bagaimana caranya kita bisa kasih sumbangsih sedikit buat masyarakat, caranya buka usaha ini. Jadi tulus membangun Insya Allah dikasih jalan ke depan,” ujarnya.
(zul)