LANGIT7.ID, Semarang - Kurikulum prototipe, atau kurikulum 2013 yang telah disederhanakan bisa menjadi solusi pembelajaran di era pandemi Covid-19. Akibat pembelajaran daring karena pandemi covid-19, siswa kehilangan pembelajaran literasi dan numerasi.
Direktur Jenderal Pendidikan Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kemendikbud RI Jumeri mengatakan, selama satu tahun lebih pandemi Covid-19 terjadi. Hal ini berpotensi menimbulkan dampak sosial negatif yang berkepanjangan serta menimbukan kehilangan pembelajaran
(learning loss) literasi dan numerasi yang signifikan.
Kemendikbud memberikan solusi dan dukungan dalam upaya pemulihan di masa pandemi Covid-19. Salah satunya dengan menciptakan kurikulum darurat, yakni kurikulum prototipe. Kurikulum ini menjadi opsi yang dapat dipilh oleh satuan pendidikan.
Baca juga:
Secara Historis, Pesantren Berjasa Perkuat Bangsa Lewat Pendidikan“Kurikulum darurat merupakan penyederhanaan dari kurikulum 2013. Kebijakan kurikulum darurat mengurangi dampak negatif saat pandemi di bidang pembelajaran secara signifikan yaitu sebesar 73 % literasi da 86 % numerik,” kata Jumeri, dalam webinar nasional “Di Era Kurikulum Prototipe 2022,” dikutip Jumat (4/2).
Kurikulum prototipe ini kurikulum yang lebih fleksibel, sekaligus berfokus pada materi esensial dan pengembangan karakter dan kompetensi murid. Kurikulum prototipe ini diterapkan di 2.500 sekolah penggerak, dan 900 SMK unggulan di berbagai wilayah di Indonesia.
Jumeri menyampaikan, sebagai bagian dari mitigasi learning loss, sekolah diberi opsi untuk menggunakan kurikulum yang disederhanakan agar dapat berfokus pada karakter dan kompetensi mendasar.
Siswa pengguna kurikulum darurat mendapat capaian belajar yang lebih baik dibandingkan pengguna kurikulum 2013 secara penuh, terlepas dari latar belakang sosio ekonominya.
“Survei pada 18.370 siswa kelas 1-3 SD di 612 sekolah di 20 kabupaten/kota dari 8 provinsi pada April-Mei 2021 menunjukkan, adanya perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kurikulum 2013 dan kurikulum darurat,” ucapnya.
Menurutnya, kurikulum prototipe mendorong pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa, serta memberi ruang lebih luas pada pengembangan karakter dan kompetensi dasar.
Baca juga:
Resmi Beroperasi, Muhammadiyah Australia College Diisi Siswa Berbagai BangsaKurikulum protitipe dapat mendukung pemulihan pembelajaran melalui pembelajaran berbasis
project untuk pengembangan soft skill, dan karakter, fokus pada materi esensial sehingga ada waktu cukup untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi.
“Serta, menjadikan fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid
(teach at the right level) dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal,” pungkasnya.
(sof)