LANGIT7.ID, Jakarta - Berkebun di rumah menjadi pilihan masyarakat untuk beraktivitas positif di tengah aturan pembatasan selama pandemi Covid-19. Hobi baru masyarakat sempat membuat produsen tanaman kewalahan memenuhi permintaan pasar.
Pemilik usaha Haden Farm Haden Mulyono mengatakan, pada tahun lalu peminat tanaman hias melonjak drastis. Tidak hanya tanaman hias, permintaan tanaman buah dan sayur sempat meningkat.
Dia mengaku, saat itu usaha berkebun bersama kawan-kawannya menyentuh omzet 20–30 juta per bulan. Namun, kondisi sedemikian tidak sama seperti beberapa waktu terakhir.
"Ya kalau sekarang turun setengahnya ada. Ini dikarenakan, tidak hanya PPKM tapi tren tanaman yang berubah-ubah. Kayak dulu, musim janda bolong. Semuanya jual janda bolong," kata Haden saat dihubungi
Langit7.id, Ahad (25/7/2021).
Selain tren berubah, kata dia, masyarakat sudah menetahui cara-cara pembibitan. Atas dasar itu pula, harga tanaman berangsur-angsur turun. Menurut pria yang sejak kecil hobi bertanam itu, saat ini keunikan dan kelangkaan jenis tertentu menjadi penentu harga.
"Kayak sekarang Aglonema sedang jadi tren. Harganya dimulai dari Rp100.000 hingga jutaan. Misalnya, kayak kemarinkan janda bolong yang warnanya bule. Semakin orang enggak punya jenis tanaman itu, maka harganya bisa mencapai puluhan juta," katanya.
Namun, meski tidak lagi musim bukan berarti tanaman-tanaman jenis tertentu sepi peminat. Haden menegaskan, tetap saja ada yang membeli. "Selama ibu-ibu rumah tangga masih menyukai tanaman hias, meski sudah bukan tren tetap ada yang mencari," ungkapnya.
Berawal dari hobi lama-lama jadi usahaHaden menerangkan, usaha tanamannya bermula dari hobi berkebun di rumah. Mulai dari bibit dan berhasil tumbuh cukup besar. Awalnya hanya untuk aktualisasi semata dengan mengabadikan tanaman-tanaman tersebut di media sosial.
"Dari sanalah banyak yang menanyakan cara budidayanya. Apakah dijual," ucapnya.
Awalnya, Haden memulai berkebun dengan menanam tanaman buah dan sayuran. Seperti cabai, terong, tin, lemon, dan anggur. Setelah 100 pohon berhasil dikembangkan, Haden mouth
to mouth menawarkan pohon-pohonnya kepada tetangga, kawan, hingga akun persahabatannya di media sosial.
"Harganya bervariatif dari Rp10.000 hingga jutaan. Misal, jambu air per pohonnya Rp35.000. Anggur Rp100.000 sampai Rp2 juta. Ada juga cabai Rp35.000, yang masih kecil Rp10.000," katanya sambil menunjuk tiap koleksi pohon miliknya.
Sedangkan tanaman hias, dia hanya membudidayakan saat sedang musim saja. Dia menambahkan, ini bukan berarti karena tren tanaman hias menurun. Namun, karena dari awal fokusnya hanya menjual tanaman produksi buah dan sayur.
"Kalau ada yang beli banyak, biasanya kerja sama dengan kawan. Ambil barangnya dia, trus kita jual," ucapnya.
"Sedangkan tanaman hias hanya pelengkap saja di sini. Karena selama ini branding dari awal adalah buah dan sayur. Jadi nggak semua pelaku usaha tanaman itu jual semuanya. Ada yang fokusnya jualan anggur saja. Misal, anggur aja ada ratusan jenis. Dari sini saja sebetulnya sudah untung," ucapnya.
(asf)