LANGIT7.ID - , Jakarta - Tiga dosis vaksin tampaknya belum cukup untuk orang dengan sistem kekebalan yang lemah. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) merekomendasikan dosis keempat untuk perlindungan optimal terhadap COVID-19.
Rekomendasi ini muncul di tengah laporan beberapa apotek di Amerika yang menolak orang yang meminta dosis lain meskipun sudah mendapat vaksinasi tambahan atau
booster.
Baca juga: Status Vaksinasi Booster Jadi Syarat Bepergian di Arab SaudiBadan kesehatan masyarakat tersebut merevisi pedomannya karena ada "kebingungan" tentang rekomendasi untuk kelompok
immunocompromised. Sebelumnya pada Oktober lalu, CDC telah mengeluarkan panduan yang merekomendasikan dosis keempat.
Dengan panduan yang diperbarui, CDC mengatakan orang dengan sistem kekebalan yang lemah harus menunggu dalam waktu yang lebih singkat untuk mendapatkan dosis
booster tambahan di tengah pandemi COVID-19.
Bagi penerima vaksin mRNA seperti Pfizer dan Moderna, waktu tunggu untuk dosis keempat telah diturunkan menjadi tiga bulan dari lima bulan. Kurun waktu tersebut berdasarkan data yang terkumpul dari peneliti tentang efektivitas vaksin dalam berbagai penelitian.
Sedangkan bagi penerima vaksin Janssen Johnson & Johnson, suntikan
booster pertama setidaknya 28 hari setelah suntikan pertama dan harus menunggu setidaknya dua bulan sebelum mendapatkan
booster kedua.
Menurut para ahli, orang dengan gangguan kekebalan harus mendapat vaksin
booster karena mereka berisiko lebih tinggi terinfeksi bahkan jika mereka telah divaksinasi lengkap.
Baca juga: BPOM Izinkan Penggunaan Darurat Vaksin Sinopharm sebagai BoosterOrang dengan gangguan kekebalan juga cenderung menderita komplikasi COVID-19 yang parah setelah terinfeksi. Selain itu, mereka berpotensi menyimpan mutasi yang mengarah ke
strain yang lebih ganas.
“Dalam dua bulan terakhir, saya telah melihat banyak dari pasien immunocompromised ini yang telah mengikuti semua aturan masih memiliki infeksi terobosan yang signifikan. Dan saya benar-benar berpikir bahwa ini akan membantu secara dramatis,” kata direktur klinis dan spesialis penyakit menular Camille Kotton kepada Washington Post.
(est)