LANGIT7.ID, Jakarta -
Seperti mendung yang tiba-tiba menutupi langit, tanpa sengaja aku bertemu dengan Zul di Resto D'Sawah, Bogor, Sabtu (29/1/2022). Rintik hujan menambah syahdu alunan musik yang mengiringi penyanyi yang tengah menembangkan sebuah lagu dari almarhum Glenn Fredly.Oleh: Yudhiarma MK, M.Si"Dengarkan lagu
Lagu ini
Melodi rintihan hati ini
Kisah kita berakhir di Januari...."
Aku berlari, mengejar dan menyapa wartawan senior itu, saat ia masuk ke sentra kuliner yang tak jauh dari kampus IPB. Aku mengenal gaya berjalan dan topi koboinya, karena kami sudah berkawan sejak sama-sama bertugas meliput di Komplek Parlemen, Senayan, pada awal tahun 2000-an.
Sejak pandemi menghantui negeri ini, kami lama tak bersua, hingga perjumpaan mendadak tanpa rencana di tengah kepungan padi yang masih menghijau.
Kami sejenak bersilaturahmi dalam suasana sisa perayaan tahun baru, dengan membawa serta keluarga. Dan aku menyesal tak sempat berfoto, mengabadikan momen yang tak akan pernah ada lagi, mengingat waktu yang hanya sepintas lalu.
Seperti halilintar yang menyambar, kilatan memori berputar-putar di atas kepala, berjuang melawan lupa. Beruntai kisah mulai merambah, seperti saat alumni Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) bernama lengkap Zulkarmedi Siregar ini, mengenalkanku pada Bang Anhar, legislator DPR dengan ungkapan "Ustaz di Kampung Maling".
Bulan ini, 17 tahun yang lalu, masih tersimpan dalam ingatan saat meliput rapat kerja gabungan Komisi II dan Komisi III DPR dengan Kejaksaan Agung, yang berujung kisruh, Kamis, 17 Februari 2005.
Beberapa kali kami mewawancarai politisi Partai Bintang Reformasi (PBR) itu, hingga statemen yang viral tersebut pun disusun dan dikembangkan menjadi buku. Bagai berbalas pantun, Jaksa Agung ketika itu, Abdul Rahman Saleh, juga menerbitkan buku "Bukan Kampung Maling, Bukan Desa Ustadz".
Pada 2018, kami kembali intens bertemu saat menjalin kerja sama publikasi dengan Majalah Forum Keadilan. Bang Zul menjembatani komunikasi tak langsung dengan politisi PDIP dan jurnalis senior, Bang Panda Nababan, yang kebetulan juga CEO di media terkait.
Kami pun bergerilya mewawancarai narsumber utama untuk laporan utama, seperti Kepala Perwakilan UNDP Indonesia, Christophe Bahuet, di kantor United Nations Development Programme, Jl. MH. Thamrin, Jakarta Pusat.
Seperti halilintar yang menyambar, kilatan memori berputar-putar di atas kepala, berjuang melawan lupa. Namun, beruntai warta tak bisa lagi mencipta cerita. Sebab, kemarin, 7 Februari 2022, Bang Zul berpulang ke hadirat-Nya.
Ya Allah, aku bersaksi sahabat ini orang baik, bagai hujan yang menumbuhkan padi dari sebutir gabah, seperti kisah kami yang berakhir di tengah sawah.
Kawan, istirahatlah dalam dekapan Rahman dan Rahim Allah. Insya Allah husnul khatimah. Lahul Fatihah.
Kabag Humas Baznas RI(zhd)