LANGIT7.ID, Jakarta - Binomo dinilai sebagai judi berkedok investasi trading. Aplikasi tersebut ternyata hanya satu dari sekian banyak domain situs tanpa izin yang banyak digandurungi orang-orang.
CEO Corporate Innovation Asia (CIAS), Indrawan Nugroho menyebutkan, ada beberapa yang lebih menyeramkan dari Binomo. Bahkan sampai menyasar anak-anak.
"Ada yang jauh merusak dari Binomo, karena kita tidak sadar ternyata menyasar anak-anak kita, namanya Loot Box," ujar dia dikutip dari kanal YouTube-nya Dr Indrawan Nugroho dikutip Langit7.id, Ahad (13/2/2022).
Baca Juga: Kemendag Blokir 1.222 Situs Web Perdagangan Berjangka Komoditi IlegalLoot Box merupakan item virtual yang tersebar secara random dalam game online. Item virtual itu bisa hanya bersifat kosmetik seperti skin, nick untuk karakter sang pemain, atau bisa juga berupa senjata baru yang sangat powerfull.
"Semakin langka sebuah item maka akan semakin dicari dan diminati pemain," ujarnya.
Dalam hal ini, Loot Box telah menjadi metode monetisasi pasca peluncurannya dan yang sangat disukai pengembang game online.
Indrawan menyebutkan, perusahaan pengembang game seperti Electronic Parts melaporkan bahwa Loot Box telah menyumbang keuangannya pada 2021 hingga 29 persen dari total pemasukan perusahaan. Dengan nilai total sebesar USD1,62 milyar atau setara Rp23,3 triliun.
Sementara itu, Juniper Research memprediksi di tahun 2025 nanti Loot Box akan menghasilkan uang untuk industri gim sebesar USD20,3 miliar atau setara Rp292 triliun.
"Hampir semua gim online memiliki fitur Loot Box ini dan terkadang pemain mendapatkannya sebagai hadiah, tapi seringkali pemain didorong untuk membelinya dengan menggunakan mata uang nyata atau pun virtual," jelasnya.
Biasanya, tambah dia, pemain kerap kali tidak mengetahui apa yang akan didapatkannya dari Loot Box tersebut. Sehingga dalam hal ini terkandung unsur untung-untungan.
"Jika membandingkan membeli dan membuka Loot Box dengan memainkan slot mesin di kasino, kedua kasus ini memiliki persamaan. Di mana pemain membayar untuk mendapatkan kesempatan memperoleh sesuatu yang bernilai, bisa jadi dia dapat bisa jadi tidak," katanya.
"Jadi rumus semua ini adalah untung-untungan. Sehingga hal ini mendorong perilaku seseorang cenderung untuk terus melanjutkan upaya untung-untungan tersebut," sambung dia.
Lebih lanjut, Loot Box memiliki kemiripan dengan permasalahan seorang penjudi. Sehingga menghabiskan uang untuk Loot Box berhubungan dengan perilaku bermasalah seorang penjudi.
"Masalah ini dapat menyebabkan depresi dan kecemasan, kesulitan keuangan, rusaknya hubungan keluarga, bahkan dapat berujung pada bunuh diri. Jadi yang tidak kita sadari adalah daya rusak Loot Box ini bukan hanya berdampak pada dompet, tapi juga psikologis anak," ujarnya.
(bal)