LANGIT7.ID, Jakarta - PP Muhammadiyah meluruskan konsep
wisata halal yang diartikan sebagai destinasi khusus orang Islam. Padahal yang dimaksud objek tersebut ramah muslim.
Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) Pimpinan Pusat (PP)
Muhammadiyah, Heri Zudianto mengatakan, akibat salah pemahaman itu, muncul perspektif bahwa objek wisata itu bukan untuk wisatawan non-muslim.
"Padahal wisata halal merupakan wisata tambahan yang menjadikan objek wisata itu muslim friendly atau ramah muslim. Artinya, wisata halal itu hanya tambahan sehingga wisatawan muslim menjadi nyaman tanpa mengurangi hal-hal yang sifatnya universal," kata dia dalam keterangannya, Selasa (15/2/2022).
Baca Juga: Sandiaga Uno: Wisata Halal Bukan Mensyariahkan DestinasiDalam konteks rumah sakit syar’i, kata dia, bukan soal penggunaan simbol Islam, seperti di setiap pintu kamarnya yang dipasang tulisan atau potongan ayat. Melainkan lebih kepada pelayanan yang sesuai dengan etos Islam, termasuk dalam penyediaan jenis makanannya.
Demikian pula pada pelayanan hotel ramah muslim, termasuk resto atau tempat makan, bukan berarti menjadikan konsumen non-muslim menjadi terganggu. Untuk itu, dia berharap agar perkara kesalahpahaman ini menjadi tugas untuk diselesaikan secara bersama.
"Jadi tidak harus di mana-mana penuh dengan simbol Islam, kaligrafi, dan ayat Qur’an. Berbicara halal, saya sendiri lebih condong pada ramah muslim, baik untuk industri maupun wisata," tegasnya.
Menurutnya, seni marketing dalam mengarusutamakan wisata halal adalah bagian dari seni dakwah yang mestinya dijalankan oleh orang Islam.
Sehingga penyediaan fasilitas tempat ibadah bukan berarti secara langsung meminta diberi fasilitas ibadah tempat wisata, tapi bisa dilakukan dengan cara pendekatan seni marketing.
"Di samping restoran menyediakan makanan halal, di situ juga perlu ada tempat salat yang bagus dan sebagainya. Jadi orang lebih banyak yang datang, karena telah tersedia fasilitas penunjang ibadah, khususnya bagi umat Islam," tambahnya.
(bal)