LANGIT7.ID - , Jakarta - Mengancam dan menakuti-nakuti anak adalah pola asuh yang banyak ditemui dalam keseharian. Biasanya cara ini digunakan orang tua saat anak tidak mematuhi atau menuruti perintah.
Lantas, apakah pola ini boleh lakukan?
Psikolog Anak, Seto Mulyadi mengatakan mendidik anak dengan cara mengancam seperti menjewer telinga atau memukul jika ia tidak ingin belajar, bahkan merampas
handphonenya, merupakan tindakan yang tidak dibenarkan. Hal seperti ini termasuk kekerasan psikologis dan tidak bisa dibenarkan dalam sistem pendidikan.
Baca juga: Teladani Rasulullah, Ini 7 Pola Asuh Islami yang Bisa Diterapkan"Alangkah baiknya orang tua menggunakan sistem perundingan untuk cara mendidik anak. Jika dalam perundingan itu anak melanggar maka berikan sanksinya misal tidak diijinkan untuk bermain gim seharian ini atau sejam dan lainnya," kata Kak Seto saat dihubungi Langit7, Rabu (16/2/2022).
Ia mengungkapkan, perundingan tersebut bisa didapat dengan cara dialog secara demokratis. Sehingga jika ia melanggarnya maka hukuman tersebut tidak dianggap sebagai bentuk kekerasan terhadap anak.
"Jadi tanyakan ke mereka apa maunya, cara ini dikatakan sebagai pola persahabatan. Merundingkan merupakan kunci mendapatkan solusi, jadi dua-duanya menang. Bukan salah satunya," tuturnya.
Menurut Kak Seto, tradisi rapat keluarga atau ngobrol bareng keluarga, entah itu akhir minggu maupun pertengahan minggu merupakan hal penting.
Sehingga segala kesalahpahaman yang ada dapat diluruskan, seperti "Waktu itu mama minta maaf ya karena sempat marah-marah. Mama kebawa emosi dari kantor akhirnya turun ke kamu, dan itu salah, mama minta maaf", jadi saling mengoreksi.
Baca juga: Hubungan Suami Istri di Masa Lalu Pengaruhi Pola Asuh pada AnakAnak akan melihat ibunya sebagai contoh untuk apa yang akan dilakukan. Jadi semua tidak didasarkan pada kekuatan atau kekuasaan belaka. Menurut Kak Seto hal ini sangat penting karena sekarang saatnya demokratis dalam cara mendidik.
"Pendidikan itu ada tiga jenis, otoriter yaitu orang tua yang paling berkuasa, kemudian pendidikan permisif yang serba boleh, itu juga tidak benar. Nah yang tengah-tengah yaitu pendidikan demokratis, yang dibicarakan dari hati ke hati, sehingga tidak ada permusuhan, sakit hati. Semua akan menjadi bagian yang kompak," tutupnya.
(est)