LANGIT7.ID - , Jakarta - Banyak faktor kehidupan yang mempengaruhi pola pengasuhan pada anak. Hubungan suami istri di masa lalu, bahkan masa kecil menjadi salah satu penyebabnya.
Pola asuh dengan kekerasan, baik itu verbal maupun non verbal atau konflik orang tua di depan anak, disadari atau tidak dapat menimbulkan kecemasan dan trauma mendalam pada anak.
Psikolog dan Konselor Pernikahan Dr. Adriana Soekandar Ginanjar, menjelaskan ada beberapa jenis trauma yang dialami manusia, khususnya dalam kehidupan rumah tangga. Trauma-trauma ini harus dikenali lebih awal agar ke depannya orang tua dapat memproses trauma menjadi bentuk emosi yang baik.
Baca juga: Kebiasaan Salah Pengasuhan Anak, Bisa Jadi Orang Tua Durhaka"Ketika dapat memproses emosi, tentunya akan membawa dampak yang lebih baik ke sekitar atau keluarga terdekat." kata Adriana pada webinar "Memperbaiki Hubungan Suami Istri dengan Luka Masa Lalu atau Masa Kini untuk Bekal Keluarga Bahagia".
"Ada trauma akut yang terjadi satu kali tetapi secara intens. Seperti adanya perceraian, bencana alam, pelecehan seksual, yang terjadi di masa lampau atau masa kecil," jelas Adriana.
Kemudian, trauma kronis yang terjadi berulang kali dalam jangka waktu yang panjang. Seperti mendapatkan kekerasan dari orang tua atau orang sekitar, bullying, melihat kekerasan dan konflik orang tua.
Dan, trauma kompleks dengan kejadian yang beragam terdiri dari kejadian traumatis yang berbeda-beda.
"Jika tidak diperbaiki, trauma di masa lampau ini dapat terus menghantui kehidupan sehari-hari kita sebagai orang tua bahkan dapat berdampak pada pola asuh ke anak kita saat ini." imbuh Adriana dalam keterangannya.
“Adapun beberapa faktor yang juga dapat melatarbelakangi anak rentan terkena trauma dalam kehidupan. Seperti sifat anak yang terlalu tertutup, orang tua yang tidak memahami anak, dan orang tua yang seringkali merasa paling tahu atau paling benar” lanjut penulis buku Pelangi di Akhir Badai ini.
Maka dari itu, yang dapat dilakukan sebagai orang tua agar dapat menghindari anak memiliki trauma dari rumah tangga adalah dengan mengenal anak lebih baik. Bersikap terbuka dengan anak agar terjalin komunikasi yang baik antara orang tua dan sang buah hati.
Hormati anak dari kecil dengan menghargai setiap keputusan anaknya dan tidak menuntut anak terlalu sering. Ajarkan juga anak untuk bersuara dan berpendapat di setiap kondisi. Ini dapat dimulai dari hal-hal kecil yang ditemukan di keseharian.
Baca juga: Banyak Yatim akibat Covid-19, Program Orang Tua Asuh Harus DigencarkanDalam hal ini orang tua berperan sebagai detektif yang terus mencari tahu apa yang anak butuhkan. Di samping itu, orang tua juga harus mencerna dan mempelajari emosi agar dapat membuahkan perilaku yang baik kepada keluarga.
"“Penting bagi orang tua untuk dapat mengenali dirinya sendiri dan pasangan terlebih dahulu sebelum membantu kebutuhan anak. Tidak ada salahnya juga untuk berkonsultasi dengan ahlinya agar bisa mendapatkan masukan untuk setiap permasalahan yang ditemukan.," kata dokter spesialis anak dan
founder Tentang Anak Official, dr. Mesty Ariotedjo.
(est)