LANGIT7.ID, Jakarta - Pegiat kekokohan keluarga, Ustadz Bendri Jaisyurrahman, mengingatkan para orang tua untuk selalu bercermin dari kesalahan anak. Sebab, sejatinya setiap kesalahan anak merupakan cerminan dari kesalahan orang tua.
Anak terlahir dalam keadaan fitrah (suci), tak ada noda sedikit pun. Begitu pesan Rasulullah SAW. Namun, kebiasaan salah dalam mengasuh yang membuat anak tumbuh penuh noda. Ini harus disadari, agar orang tua selalu introspeksi diri.
"Anak itu cerminan kita, maka ketika anak berbuat salah, maka introspeksi diri. Misalnya, ada orang bercermin ketika melihat noda hitam di wajah. Tidak mungkin menggosok cermin untuk menghilangkan noda itu, tapi mengusap wajah sendiri. Begitulah sejatinya dalam memandang kesalahan anak, lihat ke diri sendiri, karena anak adalah cerminan dari kita," kata Ustadz Bendri dalam satu kajian di Masjid Jogokariyan, dikutip Jumat (21/1/2022).
Kebiasaan salah dalam mengasuh yang membuat anak menyimpang. Ustadz Bendri mengutip nasehat parenting Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Tuhfatul Maudud terkait masalah ini.
Ibnu Qayyim mengatakan, betapa banyak orang yang mencelakakan anaknya di dunia dan akhirat karena tidak memberi perhatian dan tidak memberikan pendidikan adab kepada mereka.
Sikap cuek seorang ayah memiliki dampak besar bagi perkembangan seorang anak. Anak-anak lapar ayah akan tumbuh dengan sikap maskulin, bukan 'tulang lunak' tapi sifat atau karakternya cenderung mengikuti wanita, seperti suka berhias dan tak punya argumen ketika berdebat.
"Makanya, jangan jadi ayah cuek. Usahakan hadir untuk anak, apapun kesibukanmu," kata Ustadz Bendri.
Sikap cuek orang tua atau tidak adanya pendidikan adab sama saja menuruti semua keinginan syahwat sang anak. Banyak orang tua menganggap jika terlalu memanjakan anak dengan sederet fasilitas mewah telah memuliakan anak, padahal sejatinya itu menghinakan.
Anak butuh kehadiran ayah dan ibu, bukan sekadar hadir dalam bentuk mainan atau pun makanan enak. Kehadiran fisik sangat penting, serta mengasuh mereka dengan tepat. Ibnu Qayyim mengatakan, banyak orang tua mengira telah berbuat kepada anak jika sudah memberi kemewahan materi.
Padahal, sikap cuek atau tidak memberikan perhatian kepada anak hanya akan membuat anak tumbuh dengan cara menyimpang. Tidak ada manfaat yang bisa diberikan kepada orang tuanya, baik di dunia dan akhirat.
Ini semua bermuara pada pola pengasuhan salah. Siapa saja yang meneliti kerusakan akhlak pada anak, maka pasti dia akan mendapati semua bermuara dari orang tua.
Mayoritas anak menjadi rusak karena bersumber dari orang tua, tidak adanya perhatian kepada anak, tidak ada pendidikan tentang berbagai kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya.
Orang tua telah menyia-nyiakan anak selagi masih kecil, sehingga anak tidak bisa memberi manfaat untuk dirinya sendiri dan orang tuanya ketika sudah lanjut usia. Ketika sebagian orang tua mencela anak karena kedurhakaannya, sia anak menjawab:
"Wahai ayah, engkau dahulu telah durhaka padaku saat aku kecil, maka aku sekarang mendurhakaimu ketika engkau telah lanjut usia. Engkau dahulu telah menyia-nyiakanku sebagai anak, maka sekarang aku pun menyia-nyiakanmu ketika engkau telah berusia lanjut," kata Ustadz Bendri mengutip pernyataan Ibnu Qayyim.
(jqf)