LANGIT7.ID, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, baru saja meresmikan nama jalan Syaikh Nawawi Al-Bantani di Cakung-Cilincing, Jakarta Utara.
Hal itu dibuktikan dengan unggahan di akun
Facebook Anies Baswedan yang menunjukkan peresmian nama jalan tersebut bersama PBNU, pada Jumat (11/2/2022) lalu.
"Alhamdulillah, kemarin bersama Rais Aam KH Miftahul Achyar dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama lainnya, meresmikan nama Jalan Syaikh Nawawi al-Bantani yang berada di Cakung-Cilincing," ungkap dia.
Lantas siapa sebenarnya Syaikh Nawawi Al-Bantani?
Syaikh Nawawi al-Bantani adalah sosok guru, ulama, salah satu dari tiga ulama dari Indonesia yang pernah menjadi Imam di Masjidil Haram, sekaligus penyambung sanad ulama Nusantara.
Anies berharap, penamaan jalan tersebut dapat menjadikan Syaikh Nawawi Al-Bantani sebagai sosok yang dapat menginspirasi warga Jakarta, terutama generasi muda.
"Harapannya nanti akan muncul pribadi yang meneruskan perjuangan dan kontribusi Syaikh Nawawi Al-Bantani dalam memberikan warna pada peradaban Islam dunia," ujar Anies.
Diketahui, Syaikh Nawawi Al-Bantani yang ilmunya diakui dunia merupakan kakek buyut dari Wakil Presiden Ma'ruf Amin.
Mengutip
wapres.go.id, Ma'ruf menjelaskan, Syaikh Nawawi meraih gelar sebagai Pemimpin Ulama di Dataran Hijaz dan Ulama Besar pada Abad 14 Hijriah.
“Reputasi keilmuannya diakui di seluruh dunia. Bahkan beberapa karangannya dijadikan tesis dan disertasi di berbagai perguruan tinggi, bukan saja di Indonesia tapi juga di luar negeri," kata Ma'ruf.
Dia menilai, fikih Syaikh Nawawi merupakan cara berpikir moderat. Disebutkan, bahwa cara berpikir ulama keturunan ke-12 dari Maulana Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati, Cirebon ini cukup dinamis dan tidak tekstual.
Nama lengkap Syaikh Nawawi adalah Muhammad Nawawi. Dia dilahirkan pada tahun 1230 H/1813 M di Tanara, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.
Perjalanannya ke Makkah bermula ketika dia berkeinginan untuk memperdalam ilmu tentang Islam, sekaligus menunaikan ibadah haji. Diketahui, selama di Tanah Suci, Syaikh Nawawi memperdalam banyak ilmu, seperti ilmu kalam, bahasa dan sastra Arab, ilmu hadits, tafsir, usul fikih dan lainnya.
Hal itu dijalaninya selama kurun waktu 30 tahun. Ketika memperoleh ilmu dan pengalaman yang cukup, pada tahun 1860 M, Syaikh Nawawi mulai aktif mengajar setiap hari di Masjidil Haram.
Aktivitasnya itu dijalani hingga akhir hayatnya, tepatnya pada 25 Syawal 1314 H/ 1897 M. Syaikh Nawawi dimakamkan di Jannatul Mu'alla, Makkah.
Makamnya bersebelahan dengan makam Sayyidah Asma’ binti Abu Bakar Ash-Shiddiq.
(jqf)