LANGIT7.ID, Jakarta - Impian finansial di masa depan tidak bisa hanya mengandalkan dana yang mengendap di rekening tabungan saja. Selain tidak memberikan keuntungan tinggi, hal itu juga bisa membuat nilai uang tergerus inflasi.
Maka itu, para ahli keuangan menyarankan mengalihkan pada instrumen investasi. Tapi ada sebuah gejolak dilema yang dirasakan umat Islam terkait investasi.
Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi Al-Makassari mengajak umat Islam agar tak perlu takut berinvestasi. Sebab praktik investasi sudah ada pada masa Rasulullah. Beliau bahkan bisa mengolah negara meski dikenal memiliki kehidupan sangat sederhana.
Dia mencontohkan salah satu bentuk investasi dalam bentuk Baitul Mal. Rasulullah mempekerjakan pengembala untuk zakat yang berupa hewan ternak. Jika ada tamu dari luar kota ataupun musafir, susu dari hewan ternak itu bisa dijadikan jamuan.
"Itu ada haditsnya dalam Bukhari. Itu salah satu bentuk investasi, karena mengambil susu hewan ternak itu untuk digunakan. Itu definisi
istismar," kata Dzulqarnain melalui kanal
YouTube-nya, dikutip Jumat (18/2/2022).
Ada pula yang dilakukan oleh Umar bin Khattab. Harta Tayyib yang seharusnya dibagikan beliau tahan lalu diinvestasikan. Hasil dari investasi itu dibagikan kepada mereka yang berhak mendapatkan.
"Itu bentuk investasi juga. Tapi itu bentuk campur tangan negara. Tapi secara individu tidak boleh, misalnya menahan-nahan zakat untuk diolah lalu hasilnya dibagikan ke fakir miskin," katanya.
Ada banyak contoh-contoh investasi pada masa Rasulullah. Beliau pernah menggadaikan baju besi dengan gandum. Itu pun sudah termasuk investasi. Lalu, ada sahabat kaya raya Abdurrahman bin Auf.
Abdurrahman datang dari Mekkah tanpa membawa harta sedikit pun. Saat sampai di Madinah, ia hanya menanyakan letak pasar. Ia tak berinvestasi dalam bentuk uang, tapi hanya bermodalkan
skill dan tenaga.
"Pagi dia masuk pasar tidak bawa uang, sore pulang bawa keuntungan. Dia dari Mekkah tidak punya bawa harta sama sekali. Dalam sepekan, Abdurrahman bisa menikah dengan menghadiahkan mahar emas kepada istrinya. Itu kan luar biasa. Dari tidak ada uang di tangan, tapi dengan modal skill dan tenaga, beliau bisa menghasilkan," ucap Dzulqarnain.
Dzulqarnain juga menganalogikan investasi yang dilakukan oleh Rasulullah. Nabi Muhammad tak bergelimangan harta. Bahkan santri-santri beliau yakni ahlussuffah biasa tidak makan sampai 2 hari. Tapi bersamaan dengan itu beliau bisa membuat negara yang hebat. Bisa memperluas wilayah.
"Pada masa Khulafaur Rasyidin kekuasaan umat Islam berkembang dari timur ke barat bumi. itu pasti di dalam syariat sudah dilengkapi sistem perekonomian kuat untuk mendukung untuk tegaknya sebuah negara," kata Dzulqarnain.
(jqf)