LANGIT7.ID, Jakarta - Baru-baru ini media sosial dihebohkan dengan video viral yang menyebut ada garis putih di langit sebagai Chemtrail (Chemical Trail). Asap tersebut diisukan menjadi upaya penyebaran virus Covid-19 varian Omicron.
Menanggapi hal tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa isu tersebut tidak benar alias hoaks. "Isu chemtrails itu hoaks. Hindari menyebarkan informasi yang tidak jelas sumbernya dan tidak bisa dipertanggungjawabkan," tulis BMKG dalam akun Instagram resminya seperti dikutip Langit7, Senin (21/2/2022).
Baca juga: Kasus Harian Covid-19 Turun SiginifikanLantas bagaimana faktanya? BMKG mengatakan awan putih di langit yang baru-baru ini viral adalah Contrail atau Condensation Trail, bukan Chemtrail. Fenomena awan putih atau jejak putih berbentuk garis lurus yang sangat panjang terbentuk setelah pesawat melintas sesungguhnya sering terjadi di Indonesia bahkan di seluruh dunia.
"Condensation trail terbentuk dari gas buang yang dihasilkan oleh mesin pesawat. Ketika mesin pesawat membakar bahan bakarnya maka akan menghasilkan gas buang berupa karbon dioksida dan uap air. Mirip asap knalpot kendaraan kita," bunyi penjelasan BMKG.
BMKG menjelaskan gas buang berupa uap air kemudian mengembun atau terkondensasi akibat suhu udara di luar pesawat yang sangat dingin. Umumnya, ketinggian jelajah pesawat terbang berada diatas 30000 kaki atau sekitar 10000 meter. Suhu udara pada ketinggian tersebut adalah -30 hingga -40 derajat Celcius.
Baca juga: Pemerintah Terus Mendorong Percepatan Vaksinasi MassalSelanjutnya, suhu yang sangat dingin itu menyebabkan uap air dari gas buang pesawat mengembun menjadi titik air dan kristal es dengan sangat cepat. Kristal-kristal es inilah yang terlihat dari permukaan Bumi dengan bentuk seperti awan. Kristal es yang membentuk Contrail itu dapat langsung menghilang atau bertahan lama tergantung kelembapan udara di sekitarnya.
Menurut BMKG, Contrail tidak memiliki dampak berbahaya terhadap apapun di Bumi. "Contrail tidak berbahaya bagi manusia, hewan, maupun tumbuhan. Contrail tidak dapat turun menjadi hujan karena posisinya yang sangat tinggi menyebabkan kristal-kristal es contrail menguap di sepanjang perjalanannya jauh sebelum menyentuh tanah," imbuh BMKG.
Baca juga:
Pemerintah Fokuskan Perawatan Pasien Kritis dan Komorbid di RS yang Menangani Pasien Covid-19
Kapolri: Keterlibatan Ulama Tingkatkan Capaian Vaksinasi Covid-19(asf)