LANGIT7.ID, Jakarta - Masjid Khoiru Ummah yang berada di Desa Sedayu di Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah berupaya menerapkan fungsi rumah ibadah seperti yang dilakukan Rasulullah Saw. Masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga sentra aktivitas sosial masyarakat.
Masjid Khoiru Ummah saat ini masih menjalani tahap pembangunan dan hampir rampung. Meski demikian, masjid telah menyediakan berbagai layanan yang dapat membuat jamaah nyaman dan senang beribadah.
Masjid Khoiru Ummah membuka pintunya 24 jam melayani setiap jamaah yang datang. Pengurus berani mengklaim inilah masjid yang ramah anak, musafir, milenial, bahkan jomblo sebagaimana yang tertera di plang masjid.
Baca Juga: Kubah Biru: Simbol Penghormatan Uni Soviet Pada Emirat BukharaBagi para musafir, Masjid Khoiru Ummah menyediakan makan dan minum, tempat istirahat, serta kamar mandi gratis. Masjid ini juga memiliki layanan internet yang dapat diakses tanpa dipungut biaya.
Setiap pekan sekali Masjid Khoiru Ummah membuat Pasar Bahagia, Jamaah yang shalat subuh dapat membawa pulang sayur mayur, lauk pauk dengan gratis. Pengurus memang mengusung visi Masjid sebagai Tempat Kembali, tanpa melihat latar belakang gerakan, harakah, mazhab, dan sebagainya.
Pengasuh Masjid Enterprise Ustaz Beni Sulastiyo pada laman Facebooknya menceritakan, Masjid Khoiru Ummah dirintis oleh Romo Bangun. Seorang ayah muda berusia 40-an.
Baca Juga: Cara Tepat Menanamkan Adab dan Akidah pada AnakRomo Bangun mengawali rintisan masjidnya dengan menjual aset pribadi untuk membeli sepetak tanah. Istri dan anaknya ia bawa ke tempat sujud itu untuk ikut serta melayani sesama.
Uang yang tersisa dibelikan material membangun lantai, dinding dan atap agar bisa digunakan untuk melaksanakan shalat. Bangunan sederhana pun berdiri, shalat jamaah sudah bisa dilaksanakan.
Singkat cerita, sepetak tanah dengan bangunan sederhana di atasnya perlahan meninggi menjadi bangunan. Para pengelola yang awalnya hanya mampu menggratiskan air untuk berwudhu dan membersihkan badan, pelan-pelan mampu menggratiskan sarapan dan makan siang tanpa bayaran.
Awalnya hanya bisa melayani anak sendiri, pelan-pelan anak-anak tetangga bisa dibuat senang. Awalnya hanya tetangga saja yang bisa menikmati aneka kegratisan, pelan-pelan para musafir dan siapapun yang datang berkunjung ke Masjid itu bisa mereka "rajakan".
Baca Juga: Jusuf Kalla: Muslim Indonesia Harus Contoh Fungsi Masjid di Zaman Nabi(zhd)