Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 02 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Cara Tepat Menanamkan Adab dan Akidah pada Anak

Muhajirin Rabu, 02 Maret 2022 - 21:16 WIB
Cara Tepat Menanamkan Adab dan Akidah pada Anak
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Pakar parenting nabawiyah, Ustadz Budi Ashari, menjelaskan perbedaan akidah dan akhlak. Akidah merupakan pondasi dan dasar dalam agama serta dasar dari segala amal yang dilakukan. Sementara akhlak merupakan norma atau aturan mengenai sopan santun yang didasarkan atas aturan agama Islam.

Ada adab yang merupakan buah dari tanaman akidah. Ada pula beberapa akhlak atau adab yang merupakan sifat bawaan seseorang. Ini termaktub dalam sebuah kisah pada masa Rasulullah. Suatu ketika datang utusan pada tahun amul wufud, 9 H dan 10 H.

Salah seorang pemimpin suku yang datang adalah Al Assad Ibnu Qaisy. Dia datang dan dipuji oleh Rasulullah, “kamu punya dua sifat yang Allah cintai.”

“Apa ya Rasulullah?” Kata Al Assad bertanya kepada Rasulullah. Kata nabi, “Al Hilm wal anah”. Hilm adalah sifat yang penyantun, jiwanya tenang, terukur, tidak tergesa-gesa, dan membalas kejahatan dengan kebaikan. Anah itu tidak terburu-buru.

Baca juga: Teladani Rasulullah, Ini 7 Pola Asuh Islami yang Bisa Diterapkan

Orang itu lalu bertanya, “Apakah ini sifat baru atau sifat lama?” Nabi menjawab, “Itu sifat sudah ada sejak dulu padamu.”

Atas dasar itu, para ulama adab mengatakan, ada akhlak yang bersifat bawaan. Budi Ashari mencontohkan karakter orang yang bawaannya Sabar, Marah pun susah. Ada pula orang yang sangat mudah marah. Kerap pula didapati orang yang sangat dermawan yang menjadi sifat bawaannya.

“Ada orang yang memang modal dasarnya dermawan. Meskipun nanti akan dipengaruhi oleh perjalanan hidupnya. Itu cuma modal dasar, tapi semua bisa dibina. Misal orang yang tidak memiliki modal dasar dermawan, bisa dibina untuk memunculkan kedermawanan dengan pembinaan terus-menerus,” kata Budi Ashari dalam sebuah kajian di Masjid Al-Irsyad yang ditayangkan kanal Ankaboot, Rabu (2/3/2022).

Menurut Budi Ashari, untuk menanamkan adab yang kokoh, tentu sangat berhubungan erat dengan iman atau akidah. Namun perlu dipahami, belajar akidah atau pun adab bukan berarti belajar kitab. Ini merupakan kurikulum dasar dalam pendidikan anak.

Baca juga: Cara Mendidik Anak Agar Cerdas dan Percaya Diri

Anak tidak bisa diajari teori. Kesalahan terbesar orang dalam belajar akidah adalah mempelajari akidah seperti belajar filsafat. Ini merupakan proses pembelajaran tauhid yang salah. Jika belajar akidah seperti filsafat, maka hanya akan menjadi wawasan di kepala.

“Filsafat itu hanya muter-muter di logika orang. Hanya belajar di kitab, tapi tidak pernah turun ke keyakinannya. Kalau anak kecil, contoh gampang shalat. Bagaimana cara mengajari anak shalat yang benar? Tidak benar Kalau mengajak anak buka kitab tentang shalat lalu hanya meminta anak menghafal isi kitab itu. Begitu dengan wudhu misalnya,” kata Budi Ashari.

Cara cepat mengajari anak akidah dan adab adalah dengan mempraktikkan. Ini seperti yang pernah dilakukan Utsman bin Affan kepada para tabi’in. Utsman tidak mengajari mereka teori. Dia berkata, “Ambil buat saya air.”

Begitu diambilkan air, Utsman lalu mempraktekkan cara wudhu yang benar di hadapan para tabi’in. Lalu terakhir, Utsman berkata, “Beginilah aku melihat Rasul berwudhu.”

“Teori nanti. Ini kesalahan kita mengajarkan tauhid dengan teori. Teori itu nanti, yang penting anak punya tauhid yang benar. Setelah benar, baru dikasih teori. Usia-usia awal, bukan teori, tetapi ditanam,” tutur Budi Ashari.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 02 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)