LANGIT7.ID, Jakarta - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif meluncurkan program
Carbon Footprint Calculator (CFPC) dan
Carbon Offsetting guna mendukung percepatan pemulihan ekonomi serta membuka peluang kerja bagi masyarakat indonesia.
Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Angela Tanoesoedibjo mengatakan program tersebut sebagai salah satu cara dalam mengatasi dampak perubahan iklim yang diakibatkan oleh kegiatan pariwisata.
“Kelestarian lingkungan merupakan aset yang paling berharga bagi pembangunan pariwisata yang berkelanjutan. Jika kita ingin mewariskan manfaat ekonomi dari sektor pariwisata kepada generasi berikutnya, maka kita harus gerak cepat melalui berbagai inovasi dan kolaborasi untuk mewujudkan konsep climate friendly tourism,” ujar Angela secara virtual dikutip Langit7 Jum’at (4/3/2022).
Baca juga: Menparekraf Ajak Industri Pariwisata Beralih ke DigitalAngela mengatakan, mengacu pada hasil riset Nature Climate Change pada 2018, jejak karbon dari industri pariwisata dalam skala global menghasilkan 8 persen dari emisi karbon dunia, terutama dari sektor transportasi, belanja, dan makanan.
“Hal ini tentunya menjadi perhatian kita bersama dan sudah seharusnya menjadi bagian dari tanggung jawab kita, selaku pemangku kepentingan dari sektor pariwisata,” ujarnya.
Dalam pengembangan pariwisata Indonesia pemeritah sudah memiliki rumusan 3P, yakni
people,
planet, dan
prosperity.
Dia menjelaskan, ‘
people’ dengan memperhatikan apa yang menjadi keinginan wisatawan, ‘
planet’ bagaimana kita merawat dan melestarikan destinasi wisata, dan ‘
prosperity bagaimana kita memaksimalkan nilai ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.
“Kami yakin rumusan 3P adalah pilar untuk mencapai pariwisata berkualitas dan berkelanjutan yang semakin dilestarikan semakin menyejahterakan,” ujarnya.
Program tersebut merupakan kolaborasi antara Kemenparekraf dengan jejak.in dan ISTC, sehingga diharapkan dapat menguatkan pemahaman seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat mengenai perubahan iklim dan inovasi teknologi untuk mengatasinya dari perspektif sektor pariwisata.
Baca juga: Sandiaga Uno Cetuskan Ide Pembuatan Kereta Gantung Menuju Puncak“Sebagai satu langkah konkrit untuk mewujudkan konsep pengembangan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan ini adalah dengan Program
Carbon Footprint Calculator (CFPC) dan
carbon offsetting yang telah diluncurkan pada Januari 2022,” ungkapnya.
Kemenparekraf berkolaborasi dengan jejak.in untuk melakukan perhitungan emisi yang dihasilkan dari perjalanan wisatawan baik itu dari penggunaan listrik, bahan bakar transportasi, dan lain sebagainya.
“Lalu menawarkan program
offsetting seperti menanam pohon bagi para wisatawan untuk memitigasi jejak karbon hasil dari perjalanan mereka,” katanya
Inovasi yang telah diluncurkan ini didukung pula oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan karena bertujuan untuk melestarikan lingkungan hidup dan mengembangkan hutan kota.
“Terlebih lagi, program ini selaras dengan tema dan agenda G20 yang diusung oleh Indonesia sebagai tuan rumah tahun ini,” tuturnya.
Lebih lanjut, Angela mengatakan Indonesia mengajak seluruh dunia untuk bahu-membahu, saling mendukung untuk pulih bersama, serta tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan dengan tema
“Recover together, recover stronger”.
Baca juga: Menparekraf Bakal Terapkan VoA Bagi Wisatawan Asing yang Masuk Bali“Dengan tiga agenda besar yaitu pertama sistem kesehatan global, kedua transformasi ekonomi dan digital, dan yang ketiga adalah transisi energi hijau atau energi terbarukan,” ujarnya.
Angela mengungkapkan, sebagai sebuah sektor yang bergantung kepada keindahan alam, dia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menjaganya. Menurutnya, karena semakin lestari, pasti akan semakin memajukan sektor pariwisata dan menyejahterakan masyarakat.
(sof)