LANGIT7.ID, Jakarta - ASAR Humanity, lembaga kemanusiaan yang fokus pada bidang pendidikan dan kebencanaan menginisiasi kampanye "Gaspoll Ramadhan 1443 H, Kita Tebar Jutaan Kebermanfaatan." Salah satu programnya adalah Seribu Ton Beras untuk Seribu Pondok.
Presiden ASAR Humanity, Dicky Irawan mengatakan, pandemi Covid-19 telah mencabut kesyahduan Ramadhan. Umat Islam kehilangan suasana Ramadhan yang syahdu, khusyuk, dan bisa mudik berkumpul dengan sanak kerabat saat lebaran.
Umat Islam sekarang, kata Dicky, sudah sangat rindu agar suasana itu hadir. Apalagi pembatasan-pembatasan yang sebelumnya diberlakukan kini perlahan mulai dilonggarkan.
Baca Juga: Hati-Hati Berharap Imbalan Saat Berdakwah dan Mengajar"Sekarang ini momentum gaspoll kebaikan dan menebar kebermanfaatan," kata Dicky dalam konferensi pers di kantor baru ASAR Humanity, Menara ASAR, Jl. Yado I, Gandaria Utara, Jakarta Selatan, Selasa (15/03/2022).
Dicky mengajak umat Islam kembali menguatkan syiar Ramadhan dengan berkontribusi dalam program-program sosial yang akan dilaksanakan ASAR Humanity. Salah satunya program “Seribu Ton Beras untuk Seribu Pondok”.
Program ini merupakan kerja sama antara ASAR Humanity dengan Duta Quran Indonesia. Bentuknya pemberian paket beras untuk para santri. Duta Quran Indonesia saat ini membina 802 lembaga Pondok Pesantren maupun Rumah Tahfidz Qur’an yang tersebar di seluruh Indonesia.
Jumlah guru (asatidz) 2.500 orang dan santri mencapai 50 ribu orang. Dicky menjelaskan, program “Seribu Ton Beras untuk Seribu Pondok” merupakan semacam “aksi pemadam kelaparan” yang bertujuan memenuhi kebutuhan santri penghafal Al-Qur’an.
Baca Juga: Ingin Kuliah Gratis di Universitas Al-Azhar? Simak KetentuannyaMenurut Dicky, santri yang belajar dan menghafal Al-Qur’an di Duta Quran Indonesia masih kekurangan beras. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab santri menjadi kekurangan gizi.
“Para santri terkadang bisa makan kadang tidak. Jika tidak ada makanan, mereka berpuasa,” kata Dicky.
Hal ini karena lembaga-lembaga binaan Duta Quran Indonesia para santrinya mayoritas berasal dari keluarga pra-sejahtera. Lembaga, baik pondok pesantren maupun Rumah Tahfidz memang mendapatkan pemasukan berupa uang infak bulanan dari wali santri program regular.
Namun, jumlahnya belum dapat mencukupi kebutuhan, terutama untuk pembelian beras. “Kami mengajak masyarakat, para muhsinin, untuk menjadi pahlawan kebaikan dengan berkontibusi dalam program ini. Cukup berdonasi Rp10 ribu untuk satu kilogram beras,” ajak Dicky.
Baca Juga: Kemenag Bantah Logo Halal Indonesia Jawa Sentris(zhd)