LANGIT7.ID, Jakarta - Selalu ada hal menarik dari perhelatan Olimpiade 2020 selain tentang prestasi olah raga dari para atlet. Salah satunya adalah gerakan ramah lingkungan yang diserukan oleh Jepang selaku penyelenggara.
Jepang memang dikenal sebagai negara inovatif dan efisien. Konsep ramah lingkungan tersebut diterapkan mulai dari kebutuhan atlet, penyelenggaraan pertandingan, medali, hingga podium untuk seremoni pengalungan medali.
Kasur kardusPara kontingen atlet dari berbagai negara tinggal di wisma atlet selama Olimpiade 2020 berlangsung. Terdengar biasa, sampai kita tahu bahwa atlet-atlet tersebut tidur menggunakan kasur kardus.
Rangka tempat tidur terbuat dari karton daur ulang, sedangkan kasur modular terbuat dari serat polietilen dari merek Airweave yang diklaim dapat didaur ulang. “Tempat tidur itu bisa menampung hingga 200 kilogram,” jelas Takashi Kitajima, manajer umum wisma atlet, mengutip Olimpics.com.
Rangka empat tidur tunggal ini akan didaur ulang menjadi produk kertas setelah rangkaian Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo 2020 selesai. Sedangkan kasur akan didaur ulang menjadi produk plastik.
Obor Api dari hydrogenOlimpiade identik dengan obor api abadi yang terus menyala sejak pembukaan hingga upacara penutupan Olimpiade. Berbeda dari biasanya, Olimpiade Tokyo 2020 menggunakan hidrogen untuk menjaga api obor berkobar selama penyelenggaraan pesta olah raga dunia itu.
Melansir Olympics.com. ini pertama kalinya sumber bahan bakar tersebut digunakan untuk menyalakan api Olimpiade. Penggunaan hidrogen tidak menghasilkan karbondioksida saat dibakar, sehingga mengurangi polusi pada udara.
Tak berhenti sampai di situ, dalam upacara pembukaan yang diselenggarakan sederhana ini, busana pembawa obor dengan tema ‘Hope Lights Our Away’ (harapan menerangi jalan kita) dibuat dari bahan plastik daur ulang.
Medali dari Sampah ElektronikLagi-lagi, medali yang dikalungkan sebagai simbol kemenangan para atlet terbuat dari logam daur ulang. Medali ini mewakili seluruh warga Jepang, karena materialnya disumbang dari limbah elektronik dari penjuru negara.
Proyek Medali Tokyo berlangsung selama dua tahun. Dalam proyek itu terkumpul 32 kg emas, 3.750 kg perak dan lebih dari 2.400 kg perunggu. Material tersebut lantas didaur ulang dan menghasilkan total 5.000 medali baik emas, perak, dan perunggu. Tercatat 1.600 kota dan desa berpartisipasi dengan mendirikan pos pengumpulan barang eletronik bekas.
![Olimpiade Hijau ala Tokyo, Kasur Kardus hingga Medali Daur Ulang]()
Konsep ramah lingkungan juga menyentuh podium tempat atlet melangkah bangga meraih kemenangan. Rupanya podium terbuat dari kemasan plastik sisa konsumsi yang dikumpulkan dari masing-masing perfektur di Jepang.
Penggunaan ListrikUpaya ramah lingkungan lainnya yang tidak terlihat antara lain kesepakatan menggunakan energi listrik terbarukan dari pembangkit listrik biomassa, dan kendaraan listrik sebagai sarana transportasi atlet dan personel Olimpiade.
Kendaraan listrik diklaim mampu menekan penurunan gas buang karbondioksida secara signifikan. Menurut
Independent, Olimpiade Tokyo tidak akan menghasilkan gas buang lebih dari 2,73 juta ton, jauh berkurang dibanding 3,3 juta ton saat Olimpiade London dan 4,5 juta ton CO2 di Rio, Brasil
(arp)