LANGIT7.ID, Jakarta - Ajang
MotoGP di Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat, sedang menjadi sorotan. Tak hanya soal para pembalap internasional yang hadir di Tanah Air, munculnya sosok pawang hujan di Sirkuit tersebut turut ramai diperbincangkan.
Pawang hujan bernama Rara Istiati Wulandari beraksi saat gelaran MotoGP Mandalika 2022, Ahad (20/3/2022). Saat itu, Sirkuit Mandalika diguyur hujan sehingga balapan harus ditunda beberapa waktu.
Baca Juga: Aksi Pawang Hujan, Pakai Es Batu dan Kayu Abu dalam RitualSeperti diketahui, Indonesia masih dilanda musim penghujan sejak awal 2022. Biasanya hujan terjadi hampir setiap hari, baik pada waktu pagi, siang atau malam. Tentunya, hujan turun dengan intensitas yang berbeda-beda, bisa saja deras atau hanya sekadar gerimis.
Lantas bagaimana proses terjadinya hujan? Melansir dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (
BMKG) Senin (21/3/2022), hujan merupakan bentuk presipitasi atau endapan dari cairan atau zat padat. Hal itu berasal dari kondensasi yang jatuh dari awan menuju permukaan Bumi. Secara umum, tahapan terjadinya hujan terbagi menjadi tiga, yaitu:
1. EvaporasiEvaporasi adalah proses penguapan air. Panasnya suhu bumi dari matahari akan membuat air sungai, danau, dan laut menguap menjadi butiran atau uap air. Uap air tersebut akan naik ke atmosfer sehingga menggumpal menjadi awan.
Apabila suhu udara semakin panas maka kian banyak pula air yang menguap ke udara. Hal itu menyebabkan terjadinya hujan semakin deras.
Baca Juga: Tanpa Sesajen dan Dukun, Begini Cara Alihkan Hujan dalam Islam2. KondensasiTahapan selanjutnya adalah kondensasi, ketika uap air hasil proses penguapan atau evaporasi akan naik ke atmosfer, kemudian mengalami kondensasi atau pengembunan. Pada proses kondensasi, uap air berubah menjadi partikel-partikel es sangat kecil.
Partikel es yang terbentuk dari uap air akan mendekati satu sama lain, kemudian membentuk gumpalan putih yang biasa disebut awan. Proses partikel es yang saling mendekat dan membentuk awan itu disebut koalesensi.
Selanjutnya, partikel es akan terbentuk dengan ukuran jari-jari sekitar 5-20 mm. Dalam ukuran tersebut air akan jatuh dengan kecepatan 0,01 – 5 cm/s. Namun jika kecepatan aliran udara yang lebih tinggi, partikel itu tidak akan jatuh ke Bumi.
Sebagai informasi, perubahan uap air menjadi es tersebut dipengaruhi oleh perbedaan suhu pada perbedaan ketinggian awan di udara. Apabila semakin tinggi awan yang terbentuk, suhu akan semakin dingin.
Pada proses kondensasi, uap air akan naik ke atas lantaran terkena panas dari matahari. Setelah uap air naik cukup tinggi, terjadilah pengembunan yang berubah menjadi tetesan air.
3. PresipitasiTerakhir adalah presipitasi, yang merupakan proses mencairnya butiran es di awan, kemudian turun menjadi titik-titik hujan ke Bumi.
Awan yang sangat padat dengan uap air tidak bisa lagi menahan beban air sehingga kemudian menjadi titik-titik hujan. Ukuran titik-titik hujan bervariasi mulai dari 0,5 milimeter atau lebih besar.
Sementara, hujan gerimis berukuran kurang dari 0,5 millimeter. Ukuran tersebut ervariasi tergantung lokasi awan yang menurunkan hujan. Gerimis diturunkan awan dangkal, sementara hujan deras diturunkan oleh awan tinggi menengah atau sangat tinggi.
Baca Juga:
Viral di Medsos, Inilah Mbak Rara Pawang Hujan MotoGP Mandalika
Bagaimana Hukum Mengundang Pawang Hujan?(asf)