LANGIT7.ID - , Jakarta - Derasnya informasi di dunia digital Indonesia saat ini tidak dibarengi dengan tingginya tingkat literasi. Dosen Ilmu Informasi dan Perpustakaan (IIP) Universitas Airlangga Dr Rahma Sugihartati Dra MSi menyebut membuat dan menyaring informasi secara kritis di Indonesia masih menjadi persoalan.
Padahal, lanjut Rahma, literasi digital menjurus pada dua aspek penting, yaitu kemampuan menggunakan informasi dan teknologi digital dalam banyak format. Juga menyaring dan kritis terhadap informasi.
Baca juga: MUI Paparkan 4 Kecakapan Penting dalam Literasi Digital“Yang kedua ini (menyaring dan kritis terhadap informasi), tampaknya kita masih menjadi persoalan,” ujar Rahma seperti dikutip dari laman resmi Universitas Airlangga, Jumat (25/3/2022).
Terkait pengoperasian teknologi digital, Rahma menilai anak muda lumayan menguasainya. Namun, untuk keahlian mengevaluasi dan mencerna informasi secara kritis, generasi muda mesti lebih banyak belajar.
“Contohnya, tampak pada penyebaran hoaks yang masih tinggi. Terutama ketika event politik terjadi. Termasuk juga
hate speech,” katanya.
Ia menambahkan, perilaku netizen sebenarnya menggambarkan kemampuan literasi digital yang rendah.
Fakta tersebut dikuatkan dengan hasil Riset Digital Civility Index (DCI) 2021 dari Microsoft, dimana netizen Indonesia dinilai semakin tidak sopan selama pandemi Covid-19.
Hal tersebut akibat dari literasi digital rendah, sehingga pembuatan informasi menjadi kurang produktif. Kondisi ini berimbas pada angka capaian program penguatan literasi digital, yaitu talenta digital Indonesia.
“Kita punya
gap sekitar 600.000 per tahun antara remaja bertalenta dan permintaan dari sektor teknologi. Kita masih kekurangan tenaga bertalenta digital yang menjadi kunci transformasi digital,” paparnya.
Meski demikian, menurut Rahma, sejumlah agenda nasional pemerintah terkait dengan peningkatan talenta digital cukup strategis dan baik. Namun, masih ada pekerjaan rumah bagi pemerintah yaitu memastikan pendidikan literasi digital dapat diberikan sejak dini.
Baca juga: Digitalisasi Desa Harus Diimbangi Literasi DigitalBukan hanya kemampuan teknis, Rahma menekankan pula pentingnya mengintegrasikan literasi digital dalam kurikulum pendidikan di semua jenjang. Baik di tingkat SD, SMP, SMA, maupun perguruan tinggi. Upaya tersebut sangat penting untuk menanamkan literasi digital sejak dini.
“Di era masyarakat digital, mau tak mau kita perlu mempersiapkan kemampuan literasi digital yang memadai. Generasi muda harus mulai peka dan kritis terhadap informasi agar muncul sebagai hal yang positif dan produktif,” pungkas Rahma.
(est)