Fitnah adalah tuduhan palsu atau perkataan bohong pada seseorang yang tidak melakukannya. Dalam Islam, fitnah merupakan salah satu dosa besar. -
Fitnah adalah tuduhan palsu atau perkataan bohong pada seseorang yang tidak melakukannya. Dalam Islam, fitnah merupakan salah satu
dosa besar.Di antara fitnah besar zaman ini adalah musibah informasi, yakni berita bohong dan fitnah yang menyebar tanpa
tabayyun atau yang familiar disebut
hoaks.
Baca juga: Ustaz Abdul Somad Diklaim Promosikan Obat Kuat, Hoaks atau Fakta?Allah SWT memberi peringatan yang tegas agar umat beriman tidak mudah menyebarkan berita tanpa tabayyun. Allah Ta'ala berfirman dalam surah Al Hujurat ayat 6,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا…
Artinya: “Wahai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti…” (QS. al-Ḥujurāt: 6).
Allah Ta'ala juga mengingatkan bahwa fitnah lebih berbahaya daripada pembunuhan, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
﴿ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ﴾
Artinya: “Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.” (QS. al-Baqarah: 191)
Rasulullah SWT juga mengingatkan akan bahaya ghibah dan namimah, dua penyakit lisan dengan wujud baru di dunia maya. Rasulullah bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ
“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (HR. al-Bukhārī, no. 6056)
Baca juga: Kolom Ngabuburit Senja: Hoaks, The Silent KillerLalu bagaimana mengetahui suatu berita itu fakta atau hoaks?
Pendakwah Ibnu Kharish atau yang akrab disapa dengan Ustadz Ahong, membagikan cara memverifikasi berita hoaks sesuai
ilmu hadits.
1. Lihat yang pertama kali membuat berita tersebut
Sama seperti dalam verifikasi hadits, harus melihat siapa yang pertama kali meriwayatkan hadits tersebut.
Ustaz Ahong menekankan pada unsur kewaspadaan perlu diberikan kepada siapapun yang mengucapkan atau menuliskan informasi tersebut.
"Kita harus objektif harus adil, kalaupun itu sumbernya dari kelompok kita, tapi kalau itu sifatnya hoaks jangan disebarkan." kata Ustadz Ahong.
2. Kredibilitas pembuat berita
Selanjutnya dengan melihat siapa yang memproduksi berita tersebut. Cek terlebih dahulu, siapakah yang memproduksi informasi tersebut, dari pimpinan suatu kelompok atau salah satu dari sekian banyak anggotanya saja.
Jika dalam hadits harus dilihat apakah orang tersebut orang yang terpercaya, dan dilihat apakah memang betul ia salah satu dari sahabat nabi yang dikenal dekat dengan Rasulullah SAW.
Baca juga: Demonstrasi Menurut Syariat Islam: Bid'ah Politik, antara Amar Ma’ruf dan Potensi Fitnah3. Kompetensi produser berita
Langkah ketiga adalah melihat kompetensi orang yang memproduksi berita. Contohnya adalah Ketua Ikatan Dokter Indonesia jika berbicara masalah hukum atau ekonomi, maka ia berbicara bukan mewakili bidangnya, maka harus berhati-hati. Jika perlu jangan dijadikan sebagai panduan, karena bukan bidangnya.
Selanjutnya contoh verifikasi dalam hadits juga harus dilihat sesuai bidangnya. Permasalahan dalam rumah tangga, paling tepat yang berbicara adalah hadits dari Sayidah Aisyah RA.
4. Membuat perbandingan dengan media lain
Langkah terakhir adalah membandingkan informasi yang didapat dengan berita yang ada di media mainstream. Umumnya, .edia besar lebih dipercaya dan sudah terkonfirmasi dari narasumber yang kredibel.
Dalam dunia hadits, jika ada satu hadits maka coba bandingkan terlebih dahulu dengan hadits lain. Hal ini dikhawatirkan ada perbedaan bahkan bertentangan antara satu hadist dengan hadits lainnya.
(est)