Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 16 Maret 2026
home masjid detail berita

Pertumbuhan Ilmu Kalam: Ketika Politik Melahirkan Teologi

miftah yusufpati Selasa, 16 Desember 2025 - 04:15 WIB
Pertumbuhan Ilmu Kalam: Ketika Politik Melahirkan Teologi
Secara harfiah, kata-kata Arab kalam, berarti pembicaraan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Ilmu Kalam tidak lahir di mimbar yang tenang atau di ruang belajar yang steril. Ia tumbuh dari luka sejarah. Nurcholish Madjid menempatkan kemunculan disiplin ini dalam pusaran tragedi politik terbesar Islam awal: pembunuhan Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan, peristiwa yang dikenal sebagai al-Fitnat al-Kubra.

Sejak saat itu, umat Islam tak lagi hanya berhadapan dengan persoalan ibadah, melainkan dengan pertanyaan yang jauh lebih mendasar: siapa yang beriman, siapa yang kafir, dan siapa yang berhak memegang kekuasaan. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu menuntut penalaran. Di situlah Ilmu Kalam mulai menemukan pijakannya.

Secara bahasa, kalam berarti pembicaraan. Namun dalam pengertian ilmiah, ia adalah pembicaraan yang bernalar. Kalam bukan sekadar debat, melainkan usaha sistematis untuk menjelaskan keyakinan agama dengan logika. Dalam pengertian ini, Ilmu Kalam berutang pada tradisi logos Yunani, yang kelak diterjemahkan ke dalam bahasa Arab sebagai manthiq.

Keterkaitan antara Ilmu Kalam dan konflik politik terlihat jelas pada argumen kelompok yang membenarkan pembunuhan ‘Utsman. Rangkaian logika mereka, sebagaimana diringkas Nurcholish Madjid, berjalan berlapis: ‘Utsman dianggap berbuat dosa besar; dosa besar dipahami sebagai kekafiran; dan kekafiran, terlebih kemurtadan, layak dihukum mati. Ini bukan sekadar amarah, tetapi konstruksi rasional—betapapun rapuhnya—tentang iman dan dosa.

Dari sinilah lahir perdebatan teologis awal tentang kebebasan manusia dan kehendak Tuhan. Kelompok yang kelak dikenal sebagai Qadariyyah menegaskan bahwa manusia memiliki kemampuan menentukan perbuatannya sendiri, sehingga sepenuhnya bertanggung jawab atas dosa dan pahala. Pandangan ini, menurut Harun Nasution, menjadi fondasi rasionalisme awal dalam teologi Islam.

Perkembangan Ilmu Kalam tidak bisa dilepaskan dari pertemuan dunia Islam dengan peradaban Hellenistik. Wilayah-wilayah seperti Suriah, Irak, Mesir, dan Persia telah lama menjadi pusat pemikiran Yunani. Ketika umat Islam memasuki kawasan itu, mereka mewarisi bukan hanya administrasi dan budaya, tetapi juga tradisi berpikir logis. Pusat-pusat seperti Alexandria, Harran, dan Jundisapur menjadi jembatan penting transmisi filsafat dan logika.

W. Montgomery Watt mencatat bahwa Ilmu Kalam tumbuh sebagai respons ganda: ke dalam, untuk menyelesaikan konflik internal umat; dan ke luar, untuk menghadapi tantangan intelektual dari Kristen, Yahudi, dan filsafat Yunani. Teologi tidak lagi cukup bersandar pada otoritas wahyu, tetapi harus mampu dipertahankan secara rasional.

Namun rasionalitas Ilmu Kalam sejak awal bersifat problematik. Ia lahir dari krisis, bukan dari konsensus. Josef van Ess menunjukkan bahwa perdebatan kalam sering kali lebih dipicu oleh kebutuhan legitimasi politik ketimbang pencarian kebenaran murni. Meski demikian, justru dari ketegangan itulah lahir tradisi intelektual yang kelak memperkaya khazanah Islam.

Ilmu Kalam, dengan demikian, adalah anak dari sejarah yang bergolak. Ia mencerminkan upaya umat Islam awal untuk memahami Tuhan di tengah pertikaian manusia. Dari Fitnah Besar, lahir kesadaran bahwa iman tidak hanya diwarisi, tetapi juga harus dipikirkan.

Jika Anda ingin, saya bisa melanjutkan seri ini ke fase berikutnya: pertarungan Qadariyyah vs Jabariyyah, lahirnya Mu’tazilah, atau respons Ahlus Sunnah terhadap rasionalisme kalam.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 16 Maret 2026
Imsak
04:33
Shubuh
04:43
Dhuhur
12:05
Ashar
15:12
Maghrib
18:09
Isya
19:17
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)