LANGIT7.ID, Jakarta - PT PLN (Persero) bersama dua anak usahanya, PT Indonesia Power dan PT Pembangkit Jawa Bali (PJB), terus memaksimalkan perannya dalam perdagangan karbon sebagai salah satu upaya menurunkan emisi. Tiga perwakilan perusahaan listrik ini mengikuti program capacity building di tiga negara Eropa, yaitu Belanda, Jerman dan Belgia.
Program peningkatan kapasitas bertajuk "Implementing Emission Trading System: Lessons from Europe" merupakan kerja sama antara PLN dengan Energy Academy Indonesia (ECADIN) sebagai knowledge partner. Pada hari pertama, program ini diadakan di Kedutaan Besar Indonesia untuk Belanda.
Baca Juga: Operasikan Sistem Interkoneksi 150 kV Sumatera-Bangka, PLN Kurangi Pembangkit Berbahan Bakar MinyakDuta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda, Mayerfas sangat mendukung langkah
PLN dalam mengembangkan perdagangan karbon di Indonesia. Selain meningkatkan hubungan bilateral, kerja sama PLN dengan Belanda juga mampu meningkatkan kompetensi antara kedua belah pihak.
"Saya percaya bahwa kehadiran kita mencerminkan komitmen bersama untuk berkolaborasi dan belajar dari satu sama lain, terutama untuk memitigasi perubahan iklim sebagai tantangan global," ujar Mayerfas dalam keterangan resminya, Selasa (29/3/2022).
Direktur Manajemen Sumber Daya Manusia PLN, Yusuf Didi Setiarto mengatakan PLN dan anak perusahaannya punya peran penting dalam pengurangan emisi di Indonesia dan
perdagangan karbon. "Peningkatan kapasitas akan membantu kami mempercepat dan mengefektifkan perdagangan karbon," kata Didi.
Baca Juga: PLN Raih 5 Penghargaan di Ajang BCOMSS AwardDidi mengungkapkan tahun lalu PLN menggelar uji coba emissions trading system atau ETS dengan melibatkan 26 pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Uji coba ini merupakan yang pertama kalinya di Indonesia dan menjadi milestone pemerintah dalam penerapan aturan pajak karbon dan perdagangan karbon di bulan April.
Didi menyatakan PLN telah menyusun langkah taktis dalam hal ini. Mulai dari perumusan strategi, penguatan kemampuan sumber daya manusia, serta rencana aksi perusahaan untuk memastikan perdagangan karbon berjalan maksimal.
"Kami juga memperkuat sistem internal untuk mengukur dan memverifikasi perdagangan emisi sehingga bisa berkontribusi riil dalam pengurangan emisi. Visi kami adalah memimpin transisi energi Indonesia sambil mempertahankan pertumbuhan jangka panjang," ucapnya.
Baca Juga: PLN dan Bank Himbara Jalin Kerjasama Pembiayaan Pembangunan SPKLUDirektur Dutch Emission Authority, Mark Bressers, menyatakan bahwa dengan kerja sama ini memberikan ruang belajar bagi PLN sekaligus mengembangkan konsep perdagangan karbon yang sudah dijalankan di Negeri Kincir Angin. Dengan program peningkatan kapasitas ini, diharapkan PLN dapat mengimplementasikan nilai ekonomi karbon untuk mendukung target penurunan emisi pada 2030 serta net zero emission pada 2060.
Otoritas Emisi Belanda juga menyampaikan tentang strategi Fit For 55 atau yang dikenal sebagai strategi penurunan 55 persen emisi Belanda pada tahun 2030. Strategi ini dijalankan sesuai dengan komitmen negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa.
Sebagai informasi, Presiden Joko Widodo (
Jokowi) menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 98 Tahun 2021 tentang Nilai Ekonomi Karbon (NEK). Melalui Perpres ini, Indonesia memposisikan diri sebagai penggerak pertama (first mover) penanggulangan perubahan iklim berbasis pasar di tingkat global menuju pemulihan ekonomi yang berkelanjutan.
Baca Juga:
SuperSUN, Inovasi PLN Hadirkan Listrik Hijau di Daerah 3T
Dorong Bauran Energi Bersih, PLN Tambah 2 Pembangkit EBT di Lampung(asf)