LANGIT7.ID - , Jakarta - Istiqlal menjadi masjid pertama didunia yang mendapatkan Sertifikat Final dari sistem EDGE
(Excellence in Design for Greater Efficiencies). Penilaian tersebut mengacu pada proses peremajaan ramah lingkungan yang dimiliki terbukti menurunkan jejak karbon secara signifikan.
“Kami merasa sangat terhormat dapat menjadi masjid pertama di dunia yang mendapatkan sertifikasi Final EDGE. Pencapaian yang luar biasa ini merupakan bukti nyata dari komitmen kami untuk mendukung kelestarian lingkungan baik di kawasan Masjid Istiqlal maupun di seluruh negeri," ujar Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, Rabu (6/3/2022).
Baca juga: Bukber dan Tarawih di Masjid Istiqlal Diadakan Lagi Tahun IniMenurut Nasaruddin Umar, penting bagi umat Islam untuk mewujudkan masjid hijau yang ramah lingkungan untuk meningkatkan kualitas ibadah serta menghormati kepemimpinan Rasulullah SAW yang sangat peduli terhadap alam. Pembangunan kembali dan merevitalisasi peran Masjid sebagai pusat pencerahan pelestarian lingkungan pun menjadi salah satu prioritas.
Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI), Green Building Council Indonesia (GBC Indonesia) dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Indonesia bermitra dengan IFC, anggota Kelompok Bank Dunia, untuk merenovasi beberapa bagian dari Masjid Istiqlal dengan menambahkan fitur ramah lingkungan yang akan meningkatkan efisiensi air dan energi dari bangunan ikonik tersebut.
Pekerjaan yang dilakukan di Masjid Istiqlal ini tidak hanya dilihat sebagai respon terhadap upaya memerangi perubahan iklim, tetapi juga sebagai contoh yang akan mendorong penerapan praktik desain bangunan hijau di Indonesia dan di tempat lain.
Baca juga: Erick Thohir: Festival Istiqlal Jadi Pendorong PerubahanMasjid dengan cat reflektif untuk atap dan dinding bagian luar, pencahayaan hemat energi di ruang internal dan eksternal, pengukur energi pintar dan panel surya yang akan mencakup lebih dari 13 persen konsumsi listrik, diharapkan Masjid Istiqlal akan mampu menghemat energi hingga 23 persen.
Dengan penggunaan keran air beraliran rendah, pengolahan dan daur ulang air buangan serta langkah-langkah efisiensi lainnya, secara keseluruhan konsumsi air akan berkurang sebanyak 36 persen.
“Proyek ini merupakan contoh dari apa yang dapat dicapai apabila kita bekerja sama dalam upaya melawan krisis iklim, yang tetap menjadi salah satu tantangan terbesar saat ini,” ucap Azam Khan, Country Manager untuk Indonesia dan Timor-Leste.
Menurut Azam, perubahan iklim mengancam kehidupan dan mata pencaharian serta memperlambat kemajuan dari upaya pengentasan kemiskinan. Terutama di tengah meningkatnya intensitas bencana terkait iklim ygang terjadi, termasuk di Indonesia.
Baca juga: Kerja Sama dengan UKM, Istiqlal Sediakan Ribuan Paket BerbukaIa melanjutkan jika terdapat peluang untuk mengambil tindakan langsung, dan pembangunan kembali Masjid Istiqlal menunjukkan bahwa investasi dalam infrastruktur tahan iklim, termasuk bangunan hijau, dapat membawa perubahan yang terukur.
(est)