LANGIT7.ID, Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (
Kominfo) terus menggencarkan melakukan percepatan transformasi digital, salah satunya membangun jaringan Base Tranceiver Station (BTS). Penyediaan sinyal 4G dan akses internet tidak hanya berfokus pada wilayah urban, tetapi juga di pelosok desa berpemukiman serta wilayah terluar, tertinggal dan terdepan (3T).
Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kominfo, Anang Latif mengatakan pembangunan infrastruktur digital di desa-desa terpencil bukan hal yang mudah. Tantangan kondisi geografis alam, persoalan logistik, transportasi, dan ketersediaan SDM menjadi kendala tersendiri.
Baca Juga: Kominfo Akselerasi BTS 4G di Desa 3T"BAKTI Kominfo membangun
BTS 4G di wilayah 3T yang sangat sulit dijangkau. Bahkan, banyak desa yang belum memiliki infrastruktur jalan yang layak dan aliran listrik. Sehingga pengiriman material ke lokasi BTS 4G banyak dilakukan dengan berjalan kaki dan menggunakan gerobak atau menggunakan perahu-perahu tradisional untuk menyeberangi lautan atau sungai-sungai," kata Anang dalam keterangan resminya, Jumat (15/4/2022).
Anang membeberkan, di wilayah pegunungan Papua memerlukan transportasi udara untuk sarana pengangkutan material dan peralatan. Ketersediaan transportasi tidak sebanding antara jumlah material dan selama pandemi Covid-19, pembatasan mobilitas orang dan barang juga memengaruhi kegiatan supply chain pembangunan BTS.
"Dapat dilihat bahwa antara tahap Material on Area (MOA) dan Material on Site (MOS) terdapat kesenjangan. Jadi, material sudah tersedia di titik di area tersebut, menunggu transportasi ke titik tujuan yang umumnya merupakan medan yang sulit," ungkapnya.
Baca Juga: Kominfo Pastikan Ketersediaan STB Aman Jelang ASO Tahap ISelain itu, lanjut Anang, ada juga kesenjangan MOS dengan Ready for Service (RFS). Itu menandakan seluruh perangkat, material dan kelengkapannya sudah selesai proses instalasi dan siap diintegrasikan dengan layanan dari operator telekomunikasi.
Sementara di level global, Anang Latif menyatakan saat ini terjadi kelangkaan pasokan microchip. Hal itu tentunya berdampak pada ketersediaan beberapa perangkat telekomunikasi.
"Adanya kelangkaan yang terjadi secara global (global shortage) pada supplymicrochip juga berdampak pada supply beberapa perangkat telekomunikasi yang digunakan dalam pembangunan BTS," ucapnya.
Baca Juga: Kominfo Tegaskan Pemerintah Tidak Pernah Lakukan PeretasanAnang menjelaskan bahwa gangguan keamanan menjadi tantangan tersendiri, terutama di Papua. Dia menyatakan saat ini jumlah lokasi BTS yang dibangun di Papua dan Papua Barat mencapai sekitar 65 persen dari total BTS yang dibangun oleh BAKTI di seluruh Indonesia.
"Pada tanggal 2 Maret lalu, terjadi serangan penembakan di Kabupaten Puncak yang menewaskan 8 pekerja. Dari insiden tersebut, pekerjaan implementasi di hampir seluruh di Propinsi Papua dihentikan atas instruksi dari otoritas di Papua," ungkapnya.
Meski demikian, Anang optimistis target pembangunan BTS 4G di Indonesia bisa tercapai tahun ini. "Seluruh tantangan dan persoalan tersebut, tidak menyurutkan tekad pemerintah untuk terus melanjutkan penyediaan sinyal 4G dan akses
internet bagi masyarakat di wilayah 3T," tuturnya.
Baca Juga:
Pandemi Picu Peningkatan Penggunaan Internet yang Signifikaan
Menkominfo Sebut Digitalisasi Jadi Keharusan di Era Sekarang(asf)