LANGIT7.ID - , Jakarta - Ramadhan menjadi bulan mereformasi diri, menahan hawa nafsu, melatih kesabaran dan toleransi dengan keinginan duniawi.
Diabetes melitus dan kardiovaskular menjadi penyakit paling umum dan kronis yang menimpa masyarakat dunia. Banyak spekulasi mengatakan penderita diabetes dan pasien kardiovaskular berisiko menjalani puasa Ramadhan.
"Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Berpuasalah niscaya kalian akan sehat.” (Hadis diriwayatkan Ath Thabrani dalam Mu’jam al Awsath).
Baca juga: Hukumnya Sunnah, Ini Manfaat Kesehatan Mencabut Bulu KetiakHal tersebut pun diamini oleh ketiga bapak pengobatan barat, Hippocrates, Galen, dan Paracelsus, yang menyimpulkan hampir 500 tahun lalu bahwa puasa adalah obat terbesar.
Mengutip tulisan dokter dan konsultan kesehatan Tehneer Qureshi di About Islam, Sabtu (16/4/2022), mengatakan kesehatan seseorang sangat vital sebelum memutuskan untuk berpuasa.
"Pasien disarankan untuk menjalani pemeriksaan medis pra-Ramadhan untuk membantu mereka menghindari kesulitan kesehatan yang tidak perlu selama bulan suci," jelasnya.
Lalu, bisakah seorang pasien berpuasa?
Menurut Qureshi, ada aturan minum obat yang harus dipatuhi penderita diabetes sebelum berpuasa. Salah satu solusinya adalah dengan mengubah jadwal dan dosis obat karena waktu puasa yang panjang.
"Disarankan dari total dosis dalam sehari, 1/3 dari dosis diambil pada waktu sahur, diikuti oleh 2/3 dosis setelah makan malam untuk menghindari risiko hipoglikemia," kata Qureshi.
Sedangkan untuk pemakaian insulin, Qureshi menyarankan untuk menggunakan dua dosis saat sahur dan berbuka, untuk insulin dengan rentang kerja pendek. Dan satu dosis di malam hari untuk insulin kerja menengah.
Bagi pasien kardiovaskular, pada dasarnya untuk antihipertensi, obat-obatan untuk lipid, dan antiangina.
Baca juga: Agar Puasa Lancar, Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut Selama RamadhanPasien dengan hipertensi ringan hingga sedang dapat dengan aman melakukan puasa dengan dosis harian yang diambil selama makan siang, sedangkan pasien dengan hipertensi berat berisiko terkena penyakit kardiovaskular terkait.
Diuretik harus dihindari karena dapat menyebabkan hipotensi. Pasien dapat dengan aman melanjutkan obat-obatan mereka untuk lipid dan pengencer darah jika mereka menggunakannya setelah makan malam.
Pasien jantung harus memiliki diet yang seimbang dan sepadan. Karena itu Qureshi menganjurkan untuk menghindari makanan yang kaya minyak, lemak, asin, dan produk makanan manis.
Selain itu, bagi pasien kardiovaskular juga harus membatasi asupan makan antara 6-10 gram karbohidrat dan 1,2 gram protein per kg berat badan mereka.
Qureshi juga mengingatkan penderita harus terhidrasi dengan baik dan menghindari minuman yang mengandung kafein dan bebas gula. Terutama di saat waktu berbuka puasa tiba.
"Pasien harus banyak makan sayuran hijau dan salad, kecuali bawang mentah, kacang hijau, kentang, wortel dan bit. Sebab, semuanya ini dapat meningkatkan kadar glukosa," sebut lulusan Homoeopathic Medicine & Surgery (BHMS) from Chandaben Mohanbhai Patel Homeopathic (CMPH) Medical College, Mumbai ini.
Sedangkan untuk konsumsi buah-buahan seperti pepaya, apel, limau manis dan jeruk diperbolehkan. Juga makanan dengan indeks glycaemix rendah seperti oatmeal, gandum utuh, barley, jagung, kacang-kacangan dan lentil harus lebih disukai.
Apakah pasien diabetes dan kardiovaskular dapat berolahraga saat berpuasa?
Qureshi mengingatkan untuk penderita diabetes tipe 1 tidak boleh berolahraga sama sekali karena sangat mengganggu kadar glukosa mereka. Bahkan, ia menyarankan mereka untuk shalat sambul duduk di kursi.
"Sedangkan penderita diabetes tipe 2 dan pasien hipertensi dapat melakukan latihan dengan fokus pada aerobik dan latihan kekuatan setelah berbuka puasa," kata Qureshi.
Baca juga: Sambut Ramadhan, Ini 6 Tips Menjaga Kesehatan Selama PuasaNamun, Qureshi juga mengingatkan bahwa selama Ramadhan pasien diabetes dan kardiovaskular memiliki peningkatan kemungkinan komplikasi yang bisa membahayakan.
"Karena itu, seseorang perlu waspada dengan komplikasi seperti hipoglikemia, hiperglikemia, ketoasidosis diabetikum, dehidrasi, penipisan volume, hipotensi dan trombosis mungkin terjadi," jelasnya lebih lanjut.
Selama berpuasa, pasien juga harus sering memeriksakan gula darah dan tensi. Terutama di saat mereka merasa sangat haus, buang air kecil berlebihan, pusing, berkeringat, dan kelelahan yang luar biasa.
Saat pasien mengalami gejala seperti di atas dan glukosa darah turun di bawah 70 miligram% (mgm%) atau melebihi 300 miligram%, maka mereka harus berbuka puasa.
Tindakan cepat yang sama harus diambil jika tekanan darah turun di bawah 100/60 milimeter air raksa (mm Hg) atau jika ada perasaan tidak nyaman di dada atau sesak napas.
Islam tidak memberatkan umatnya dalam menjalankan ibadah. Artinya ada aturan khusus yang membebaskan seseorang untuk tidak berpuasa dengan catatan medis tertentu.
Baca juga: Penting untuk Kesehatan Tenggorokan, Ini Cara Berkumur yang TepatSeperti penderita diabetes tipe 1 atau pasien dengan hipertesi esensial secara medis sebaiknya tidak berpuasa. Sebab, kondisi puasa bisa mengakibatkan masalah medis bagi mereka. Kecuali mereka telah mempraktikkan perubahan dosis dan waktu minum sebelum Ramadhan, dan tidak mengindikasikan gejala apapun.
"Allah dan Rasulullah SAW memberi tahu kita dalam Al-Qur'an dan Sunnah masing-masing tentang peraturan yang ditetapkan Islam untuk orang sakit yang tidak dapat berpuasa," tutup Qureshi.
(est)