LANGIT7.ID, Jakarta - Kunci kesehatan jiwa menurut
Imam al Ghazali adalah dengan melakukan perbuatan terpuji atau al-fadhilah. Jiwa yang sehat akan membawa seseorang cenderung untuk melakukan perbuatan terpuji secara alami.
Dosen Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia (FIAI UII), Asmuni menjelaskan, dalam kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Ghazali, ketika jiwa menafikan al-fadhilah, kemudian melihat ke perbuatan yang tidak terpuji, menunjukkan jiwa yang sakit atau tidak sehat.
"Artinya ada relasi kuat antara jiwa yang sehat dengan amal perbuatan utama atau istimewa. Jiwa dengan akhlak terpuji memiliki hubungan yang sangat penting," kata dia seperti dilansir laman UII, Senin (25/4/2022).
Baca Juga: Jangan Cengeng di Usia Produktif, Pahami dulu Makna HealingMenurutnya, jiwa yang sakit akan condong kepada perbuatan kejelekan. Padahal sesungguhnya jiwa tidak menghendaki perbuatan buruk.
Menurut Imam Ghazali, jelas dia, manusia memiliki kemampuan untuk mengalahkan godaan untuk berbuat buruk. Hingga pada akhirnya sampai kepada istikamah, yang dapat diartikan sebagai kesehatan jiwa.
Mengobati jiwa yang sakitAsmuni mengatakan, orang yang cenderung meninggalkan ketenangan berarti menunjukkan bahwa jiwanya sedang sakit.
Adapun cara mengobatinya yakni dengan menghapus atau meninggalkan ar-razilah (kejelekan). Dihapus sedemikian rupa untuk berusaha menarik al-fadhilah (keutamaan).
“Ketika kita dihiasi dengan ar-razilah maka obatnya adalah al-fadhilah,” tegas Asmuni.
Seseorang juga tidak boleh melampaui batas dalam melakukan kegiatan yang utama (al-fadhilah). Namun, harus seimbang dengan kehidupan sosial yang nyata, sampai bertemu fase ketenangan.
Hal itu dapat disempurnakan melalui pendidikan, membersihkan atau memurnikan akhlak dan banyak menambah ilmu. Termasuk puasa yang dipandang dapat menyeimbangkan batin manusia.
“Inilah yang sebetulnya fungsi puasa, tidak terlena dengan aspek-aspek yang sifatnya materi, tapi juga mementingkan rohani," tegas Asmuni.
(bal)