LANGIT7.ID, Jakarta - Bagi-bagi angpau ketika Ramadhan seringkali dilakukan oleh orang yang sudah menikah. Ada juga bagi yang belum menikah namun telah memiliki penghasilan.
Biasanya, bagi-bagi angpau ini diberikan kepada anak-anak hingga remaja di seputaran keluarga dekat hingga keluarga jauh. Lantas, bagaimana tradisi berbagi angpau atau amplop dalam Islam?
Wakil Ketua Komisi Penelitian dan Pengkajian MUI Pusat, Ustaz Wido Supraha mengtakan tradisi berbagi angpau dalam agama tidak memiliki arahan secara khusus.
Baca Juga: 5 Tips Kelola THR dengan Bijak, Tetap Dahulukan Zakat dan Infak"Tradisi berbagi amplop kepada anak-anak dan pemuda khusus di hari lebaran, tentu tidak ada arahan agamanya secara khusus, tapi secara umum masuk pada konteks bershadaqah, membahagiakan kerabat, menguatkan silaturahim, merawat cinta kasih, dan bagian dari motivasi amal ibadah," ujar Ustaz Wido kepada Langit7, dikutip Sabtu (30/4/2022).
Angpau, menurut Ustaz Wido adalah amplop yang khusus berwarna merah. Bentuk ini dikenal dalam tradisi Tionghoa.
Baca Juga: Melirik Kemeriahan Sedekah Angpau Masjid Babah AlunMeskipun begitu, dalam tradisi sebagian wilayah di negara-negara Muslim tradisi pemberian amplop ini sering disebut (العيدية), dan tidak memiliki arahan khusus. Akan tetapi, dari maslahat yang ada, hal tersebut mampu memberitahukan bahwa tradisi ini masuk dalam kategori baik.
"Melihat banyaknya maslahatnya, seperti bershadaqah, membahagiakan kerabat dan lainnya, maka tradisi ini masuk pada tradisi baik, yang tidak bertentangan dengan ajaran agama," katanya.
Baca Juga: Hati-Hati Berharap Imbalan Saat Berdakwah dan Mengajar(zhd)