LANGIT7.ID - , Jakarta - Bandar udara atau bandara merupakan salah satu fasilitas publik yang terbilang luas dan kompleks. Dengan kelengkapan persyaratan keamanan untuk menekan terjadinya korban jiwa jika terjadi kecelakaan di area landasan pacu.
Karena itu, dosen Prodi Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta, Andika Saputra mengatakan membangun sebuah bandara bukanlah hal yang mudah. Apalagi dari survey yang diselenggarakan di London menyebut bandara merupakan fasilitas publik penyebab stres tertinggi, selain rumah sakit.
Sebab itu dibutuhkan pemenuhan ruang yang dapat memenuhi pelepasan kelelahan psikologis seperti stres. Salah satunya adalah pemenuhan ruang ibadah di bandara.
Baca juga: Punya 1 Pemain Muslim, Wolves Sediakan Mushala dan Makanan HalalMenurut Andika, dalam unggahan di media sosialnya, terdapat dua gagasan yang bisa dijadikan solusi untuk penempatan ruang ibadah di bandara.
"Pertama, untuk jumlah civitas yang terbilang sangat besar seperti bandara, seharusnya dilengkapi masjid jami' untuk menyelenggarakan ibadah shalat Jumat." tulis Andika yang dikutip Ahad (1/5/2022).
"Selain shalat wajib 5 hari sekali maupun kegiatan ibadah lainnya pada waktu-waktu tertentu seperti majelis taklim rutin bagi pegawai dan pengunjung maupun sebagai pusat komunitas bagi pegawai Muslim," sambungnya.
Untuk memudahkan akses, lanjut Andika, masjid jami' dapat menjadi satu bagian dengan gedung depan sebagaimana yang terdapat di Yogyakarta International Airport.
Dengan begitu, jemaah dapat mengakses masjid jami' dari dalam gedung depan dengan sirkulasi langsung, tanpa harus keluar bangunan.
"Tentu saja konsekuensi dari keberadaan masjid jami' ialah terdapatkan takmir yang bertanggungjawab terhadap kepengelolaan masjid dan dikumandangkannya adzan 5 kali dalam sehari sebagai penanda masuknya waktu shalat," katanya.
Kedua, selain masjid jami', area bandara yang terlampau luas juga perlu dilengkapi dengan mushala pada titik-titik tertentu untuk digunakan oleh pengunjung dan pegawai melaksanakan ibadah shalat.
Baca juga: 3 Deretan Mal di Jakarta Pusat dengan Mushala Ternyaman"Di antaranya dibutuhkan mushala pada area keberangkatan, ruang tunggu, dan kedatangan, serta pada area kantor yang tidak dapat diakses pengunjung, yang terbilang jauh bagi pegawai untuk mengakses mushala di area tadi. Seperti dibutuhkannya mushala di area kargo," kata Andika.
Terpenting diperhatikan, yakni keberadaan mushala harus mudah dikenali secara visual dan mudah diakses secara fisiologis. Andika menyarankan untuk menghindari meletakan mushala di area tunggu berbayar yang terpisah dari mushala bagi penumpang lainnya.
"Karena bertentangan dengan hakikat ibadah shalat berjamaah yang bertujuan mengumpulkan umat Islam dalam barisan shaf shalat, konsep ummah, dan ukhuwah Islamiyah," jelas Andika.
"Demikian dua gagasan saya untuk menjadikan bandara sebagai fasilitas publik menjadi lingkungan binaan yang manusiawi untuk memenuhi variabel humanisasi, yakni dapat memenuhi kebutuhan manusia seutuhnya, tidak hanya kebutuhan fisiologis tetapi juga spiritual," ucapnya.
Dengan pemberian stimulus berupa ruang spiritual untuk menekan stres pengunjung dan pegawai bandara, dapat membebaskan manusia dari unsur yang merusak kemanusiannya.
Baca juga: Mushala Besar dan Sejuk di IIMS Hybrid 2022Lebih lanjut, Andika mengatakan dalam perspektif Arsitektur Profetik, penempatan masjid di bandara bisa menjadi pusat direalisasikannya agenda transformasi pemenuhan kebutuhan manusia seutuhnya.
"Bandara yang selama ini dipersepsikan sebagai ruang profan pun dapat menjadi bagian dari Arsitektur Islam dengan mewujudkannya sebagai ruang untuk bersujud kepada Tuhan secara lahir dan batin. Demikianlah Islam yang menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia sebagai hamba," tutup Andika.
(est)