LANGIT7.ID, Illinois - Idul Fitri di negara minoritas muslim tentu berbeda 180 derajat dengan di negara mayoritas muslim seperti Indonesia. Warga Negara Indonesia di negara minoritas muslim harus menahan rindu akan nuansa lebaran di kampung halaman.
Namun, ternyata lebaran di negeri minoritas muslim tetap punya kesan tersendiri. Hal itulah yang dialami oleh mahasiswa doktoral di University of Illinois, Abrory Agus Cahaya Pramana.
![Mahasiswa Non Muslim di AS Ajak Mahasiswa Muslim Makan Siang Rayakan Lebaran]()
Mahasiswa asal Madura ini menyebut masyarakat non muslim di Amerika tidak mempermasalahkan keberadaan umat Islam di sana. Bahkan, mereka sangat terbuka dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri.
"Mereka sangat toleran dengan perayaan hari kemenangan umat Islam," kata Abrory kepada LANGIT7.ID, Rabu (4/5/2022).
Begitu pun di dunia kampus. Abrory menceritakan, rekan sesama mahasiswa yang non muslim mengajak mahasiswa muslim makan siang bersama saat hari raya Idul Fitri.
Baca Juga: Idul Fitri di Amerika Serikat: Mengupayakan Lebaran Meski Tanpa Liburan
"Ajakan itu sebagai bentuk toleransi dan penghargaan untuk mahasiswa muslim yang sudah menahan lapar dan dahaga selama sebulan, mulai terbit hingga terbenam matahari," jelas Abrory.
Apalagi, sambung Abrory, saat Idul Fitri di Amerika Serikat tidak ada libur atau cuti seperti di Indonesia. Mereka harus menjalani aktivitas sebagaimana hari-hari biasanya. Maka saudara non muslim melihat kalau umat Islam membutuhkan nuansa Idul Fitri yang spesial.
Cara Melepas Rindu Kampung Halaman dari Negeri Paman SamSangat wajar jika Abrory merasakan kerinduan terhadap keluarga di kampung halaman. Kendati begitu, dia mengaku tidak terlalu mempermasalahkan itu. Seorang muslim meyakini, selalu ada hikmah yang tersebar di jalan-jalan kebaikan.
"Kata Imam Syafi'i, 'kalau kita tidak bisa menemukan keluarga kita di suatu negeri, maka Insya Allah akan menggantikan dengan keluarga yang lain'," tutur Abrory.
Perkataan Imam Syafi'i itu terbukti. Abrory mengaku kehadiran komunitas muslim menjadi keluarga baru di Amerika. Di sisi lain, teknologi juga memberikan kemudahan untuk berkomunikasi dengan keluarga di kampung.
"Kita bisa
video call, ada juga zoom. Jadi silaturahmi virtual," tuturnya.
Soal makanan, saat ini juga sudah semakin mudah. Banyak Bahan makanan bisa ditemukan di pasar-pasar atau supermarket. Jadi, WNI yang kangen kuliner Indonesia bisa membuat makanan ala Indonesia, seperti opor ayam.
"Jadi kalau makanan sudah tidak bisa. paling perbedaan rasa, kalau di kampung kan biasanya ada sanak keluarga, tapi di sini hanya dengan teman-teman mahasiswa, dan mungkin bersama komunitas muslim yang sudah lama ada di sini," ucap Abrory.
Istiqomah Setelah RamadhanAbrory menceritakan, salah satu momen berkesan saat Ramadhan 1443 H adalah saat menjadi moderator kajian di salah satu komunitas muslim. Ada satu pesan penting dari narasumber.
"Ramadhan memang bulan ibadah. Tapi tidak boleh hanya jadi euforia satu bulan saja. Harus berlanjut," tutur Abrory mengulangi ucapan narasumber tersebut.
Dia menyebut lebih baik istiqomah pada satu amalan kecil, ketimbang melaksanakan amalan besar tapi hanya bulan Ramadhan saja.
"Entah dari hal terkecil, tapi kita istiqomah, dan akhirnya menjadi amalan yang kita lakukan terus menerus," tutur Abrory.
(jqf)