LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir mengungkapkan kesedihannya atas wafatnya tokoh bangsa Ahmad Syafii Maarif atau dikenal Buya Syafii. Menurut dia, Buya Syafii merupakan guru bangsa yang memiliki sikap hidup apa adanya dan autentik.
"Dirinya seolah buku terbuka, ketika dikritik pun lapang dada. Beliau egaliter dan humanis, serta memiliki pemikiran dan daya hidup luar biasa melintas batas," ujar Haedar Nashir melalui akun pribadinya, dikutip Senin (30/5/2022).
Haedar menceritakan bagaimana saat-saat terakhirnya bersama Buya Syafii. Buya Syafii berwasiat untuk disiapkan makam untuknya di Taman Makam Husnul Khatimah di Kulon Progo.
Baca Juga: Buya Syafii Maarif di Mata Guru Muhammadiyah Penolak Islam Liberal"Buya malah mengajak untuk menengok (Makam Husnul Khatimah). Saya jawab, “Monggo Buya, kapan saja Buya siap, saya siap menemani," kata Haedar.
Namun, Buya Syafii dipanggil lebih dulu oleh Allah SWT. Tokoh bangsa itu meninggal pada Jumat 27 Mei 2022 pukul 10:15 WIB, di RS PKU Muhammadiyah Gamping.
Berita wafatnya Buya Syafii kemudian tersebar di berbagai media, membuat sebagian besar masyarakat Indonesia berduka. Bukan hanya dari kaum muslimin, tapi penganut agama lain pun ikut berduka.
Baca Juga: Jelang Timnas Indonesia U-19 vs Venezuela: Pemain Venezuela Miliki Banyak KelebihanGelombang masyarakat berbondong-bondong datang untuk memberikan doa dan penghormatan terakhir untuk Buya Syafii. Kemudian bakda Ashar jenazah di bawa ke pemakaman Khusnul Khatimah, Kulon Progo.
"Rupanya, inilah cara Buya “menengok” makam yang ditempatinya sebagai titik pisah terakhir beliau dengan seluruh orang yang dicintainya dan mencintainya," ujar Haedar.
"Selamat jalan Buya Ahmad Syafii Maarif, sang Guru Bangsa tercinta kami," tuturnya.
Baca Juga: Ridwan Kamil Perpanjang Cuti untuk Pantau Pencarian Eril di Swiss(zhd)