LANGIT7.ID, Yogyakarta - Cendekiawan Muslim mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif atau Buya Syafii berpulang pada Jumat (27/5/2022). Kepergian tokoh besar bagi semua kalangan itu menjadi duka cita mendalam bagi bangsa Indonesia.
Buya Syafii dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana dan bersahaja. Meski beliau adalah guru besar dan mantan pimpinan ormas Islam terbesar di Indonesia, beliau terbiasa mengendarai sepeda jika bepergian dekat. Naik motor sendiri pun dilakoni hingga menyetir mobil sendiri. Dia juga dikenal sebagai sosok yang suka ngobrol dengan tetangga, tukang kebersihan, tukang becak, tukang tambal ban, dan lain sebagainya.
Baca Juga: Bersahaja, Sosok Buya Syafii Maarif dalam Kenangan Alissa Wahid
Ketua Yayasan Bentala Tamaddun Nusantara, Ustadz Anton Ismunanto, mengenang
Buya Syafii sebagai sosok yang egaliter. Buya Syafii adalah sosok cendekiawan yang sangat tegas pada pendirian, tapi lembut saat menghadapi perbedaan. Dia tak pernah marah jika diselisihi.
Anton yang juga pengajar di Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta, mulai mengenal tokoh yang dijuluki pendekar dari Chicago itu melalui literasi. Konteks interaksi itu dimulai dengan ide, lalu disusul dengan pertemuan dan perbincangan baik untuk keperluan Masjid Syuhada, Madrasah Mu’allimin sebagai almamaternya, maupun Persyarikatan Muhammadiyah sebagai organisasi yang dicintainya.
"Di masa Aliyah saya senang membaca resonansi beliau di Republika yang terbit setiap hari selasa. Gegara itu pula, saya mulai membeli dan mengoleksi karya-karya beliau," kata Anton kepada LANGIT7.ID, Sabtu (28/5/2022).
Anton kian mengagumi sosok
Buya Syafii saat biografi beliau terbit yang kaya wawasan, pengalaman, serta kesan mendalam, meski dominan akan kesedihan. Sejak saat itu, Anton mulai mulai berinteraksi dengan Buya Syafii.
"Adapun sejak saya menjadi bagian dari pengasuh dan pengajar di Mu’allimin, pertemuan dengan beliau menjadi sesuatu yang biasa," kata Anton.
Dari semua hal tersebut, Anton melihat lebih banyak lagi sisi kepribadian Buya Syafii. Diperkaya lagi dengan cerita senior dan kawan yang rutin bertemu dan berkunjung ke rumah beliau dalam urusan Mu'allimin maupun Muhammadiyah.
Baca Juga: Pesan Buya Syafi'i Ma'arif untuk Generasi Muda Muhammadiyah
"(Buya Syafii) tidak senang dilayani, termasuk dipuji. Bahkan setahu saya, beliau tidak begitu nyaman dengan sebutan buya pada dirinya," tutur Anton.
Anton teringat ketika zaman masih menggunakan almarhum via SMS. Dia mengundang beliau untuk menjadi pemateri diskusi santai untuk para pengasuh Mu’allimin. Dia sampaikan ke Buya Syafii bahwa itu adalah acara kultural dan bukan struktural.
"Akan tetapi beliau menjawab dengan cepat: “jemput saya”. Karuan saja kami girang sedemikian rupa," tutur Anton.
Di sisi lain, cerita mengenai perhatian Buya Syafii pada orang kecil sangat banyak. Buya Syafii pernah memberangkatkan seorang petugas kebersihan masjid ke Tanah Suci. Beberapa pula beliau tidak mau menerima fee pembicara, bahkan menyelipkan ke kantong sopir yang menjemputnya.
"Di daerah rumahnya, beliau biasa mengobrol dengan tukang becak dan tambal ban yang ada di sana. Sedangkan bagi orang-orang yang ingin bertemu dengannya, sudah sangat terkenal, beliau cukup mengatakan kepada mereka untuk shalat di masjid dekat rumah beliau. Sesederhana itu protokoler untuk bertemu dengannya," cerita Anton.
Pemikiran Buya Syafii Anton mengungkapkan, secara pemikiran Buya Syafii adalah murid Fazlur Rahman yang dicirikan dengan sikap neo-modernisme. Pandangan neo-modernisme, bagi Anton yang mengikuti pandangan neo-tradisionalisme Syed Muhammad Naquib al-Attas, cukup problematis.
Ada banyak aspek pemikiran Islam yang di-dekonstruksi. Termasuk di dalamnya adalah metodologi hermeneutika
double movement yang berpotensi mengesampingkan tafsiran Qur'an dan kesimpulan hukum ulama klasik.
"Kalau mau
short cut, orang sinis akan menyebut beliau liberal," kata Anton yang kerap menolak gagasan islam liberal.
Akan tetapi, dalam hal moral, Buya Syafii sangat ketat. Beliau bersikap egaliter, menghargai perbedaan, peduli pada orang lemah dan miskin, anti terhadap korupsi dalam segala bentuknya, menggunakan akses dan kekuasaan beliau untuk memudahkan urusan orang.
Baca Juga: Prof Haedar Nashir: Buya Dikenal Sebagai Tokoh yang Menjunjung Tinggi Moral
"Ada banyak aspek diri beliau yang layak dicontoh dan diteladani. Di antara apa yang saya pahami dari diri beliau, meski saya tidak setuju dengan beberapa pandangan beliau. Singkat kata, beliau memang orang besar," kata Anton.
Buya Syafii dikenal sebagai sosok yang sudah kenyang dengan asam garam kehidupan. Sikapnya tegas, tapi biasa berbeda pendapat. Tidak marah ketika diselisihi, apalagi jika dalam perbedaan pendapat tersebut, orang yang berbeda pendapat masih tetap mau berinteraksi dengan baik.
"Di sebuah forum, saya menyampaikan secara terbuka ketidaksetujuan saya pada pandangan beliau. Alih-alih tidak suka atau bahkan marah, beliau malah mempersilahkan saya untuk berbeda pendapat. Dengar-dengar, itu pulalah sikap Fazlur Rahman yang membuat banyak orang terkesan," kata Anton.
(jqf)