LANGIT7.ID, Jakarta -
Zuhud merupakan sebuah konsep dalam Islam yang berbicara tentang nilai-nilai keikhlasan dan kesederhanaan hidup. Zuhud berarti menjauhi keinginan duniawi dan menempatkan Allah sebagai tujuan hidup utama.
Seseorang dikatakan zuhud jika mampu menjalani hidup dengan tidak terlalu memikirkan kebutuhan dan keinginan duniawi, namun lebih menekankan pada ibadah serta ketaatan pada Allah.
KH Hasan Abdullah Sahal menjelaskan, zuhud bukan berarti hidup miskin atau tidak memiliki apa-apa, tetapi lebih menekankan pada sikap dan pandangan hidup yang selalu mengarah pada kebahagiaan spiritual dan kebahagiaan akhirat.
Baca Juga: Waspada Bahaya Cinta Dunia, UAS: Coba Ambil Setengah Sayap Nyamuk“Intinya adalah menghindari atau anti atau membentengi jiwa dan pribadi dari tamak dengan tauhid tawakal,” kata KH Hasan dalam tausiahnya yang ditayangkan
Gontor tv, dikutip Sabtu (28/2/2023).
Menurut KH Sahal, zuhud cukup ada keinginan untuk membatasi diri dari keduniaan yang fana, dan pembentengan diri dari kemurahan duniawi. Zuhud bukan teori, tetapi praktik untuk hidup dalam kesederhanaan atau sekadarnya saja.
“Berangkat dari suci melangkah berjalan menuju menuju kepada Allah yang Maha Suci, hanya dengan cara melaksanakan tuntunan Allah yang kita namakan fitrah,” ujar KH Sahal.
Baca Juga: Zuhud ala Sadio Mane, Gemar Sedekah dan Tak Mau Hidup MewahZuhud berarti puas dengan apa yang dimiliki. Tidak berlebihan mengejar duniawi sehingga melabrak halal dan haram. Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim memeriksa diri sendiri, apakah sudah bersih dari zat-zat haram.
“Perjalanan kita ini sudah bersih, atau kebalikannya? atau bicaranya saja kemudian kita buru-buru ngaku dirinya suci dan zahid?” ucap KH Sahal.
Zuhud merupakan label dari Allah, bukan pengakuan manusia. Seseorang bisa saja menipu manusia, tetapi tidak bisa menipu Allah. Apalagi, iblis tidak berhenti dan kehabisan akal dalam menjerumuskan manusia pada kekufuran. Banyak orang beriman terjebak pada
riya dan
sum’a tanpa sadar.
Baca Juga: Mengenal Praktik Zuhud dalam Islam, Kunci Sederhana Bahagia“Dajjal juga tidak berpangku tangan, dia tetap mengerumuni orang-orang yang sholeh dengan caranya masing-masing, apalagi dengan orang yang mengerjakan kefasikan, kerusakan termasuk terhadap keduniaan, harta kekuasaan, harta kekayaan, tahta kekuasaan,” ungkap KH Sahal.
Maka itu, kata dia, orang zuhud adalah orang yang mampu meletakkan dunia di tangan, dan meletakkan Islam di dalam hati. Seluruh tingkah laku tidak akan terpengaruh dengan kehidupan duniawi.
“Maka kita pandai-pandailah meletakkan dunia dan keduniaan ini, sehingga tidak terjebak kepada bisikan-bisikan setan, iblis, dan kawan-kawannya. Membaca rapor kita dan malaikat menulis rapor kita juga, maka Jangan sampai kita menjadi orang yang paling keras bicara zuhud, tetapi paling depan meninggalkan zuhud,” ungkap KH Sahal.
(jqf)