LANGIT7.ID, Jakarta - Islam mengajarkan
praktik zuhud atau tidak berlebihan dengan dunia. Hal inilah yang menjadi kunci sederhana dalam upaya mencari
kebahagiaan hidup.
Motivator Muslim Indonesia, Kiki F Wijaya menyampaikan, kunci kebahagiaan hanya satu yakni sederhana. Caranya dengan tidak mencintai dunia.
"Ini yang sebenarnya menjadi rahasia hidup bahagia sekaligus salah satu dari cara untuk kita meniti jalan suluk, yakni jalan memperbaiki diri kita untuk mendekatkan kepada Allah, nah salah satu stasiunnya adalah namanya
zuhud," ujar Kiki dalam kajian bertajuk Sederhana Agar Bahagia, Selasa (8/11/2022).
Baca Juga: Perilaku Nabi, KH Cholil Nafis: Beliau Orang Kaya yang ZuhudMenurut Kiki, dahulu awal-awal perkembang Islam zuhud memang diwujudkan dalam bentuk pakaian yang ekstrim dengan pakaian compang-camping, tidak terurus, tidak mandi, pakaian kumal dan lainnya.
Namun, belakangan ini para ulama tasawuf lebih berpandangan moderat. Mereka sudah berfikir bahwa tidak harus mendekatkan diri kepada Allah dengan cara seperti demikian.
"Sebab, alih-alih mendatangkan ketertarikan orang terhadap Islam, malah cara semacam itu justru membuat orang semakin jauh dari Islam itu sendiri. Maka itu, zuhud lebih tepat dimaknai demikian, yakni berada di dunia namun kemudian tidak terikat oleh dunia," katanya.
Dia lalu berkata, terdapat beberapa tokoh yang menyampaikan pendapatnya terkait zuhud. Salah satunya Ibnu Abbas, seorang mufassir pada masa awal sejarah Islam. Dia berkata zuhud berasal dari tiga kata yakni za, ha dan dal. Pertama, Za berarti tarku az-zinah, yaitu meninggalkan kemegahan dan kemewahan.
"Mungkin maksud beliau kita tidak boleh bermegah-megahan, atau berlebihan dalam memamerkan perhiasan yang kita miliki," ucapnya.
Kedua, Ha maksudnya tarku al-hawaa, yakni meninggalkan kesenangan dan hawa nafsu.
"Mungkin lebih tepat adalah bagaimana kita belajar untuk menjadi orang yang pandai mengendalikan keinginan kita. Mahatma Gandhi pernah berkata, dunia dan segala isinya ini cukup untuk menghidupi seluruh manusia, tetapi dunia dan seisinya tidak akan pernah cukup besar untuk memenuhi orang yang serakah," tuturnya Kiki.
Ketiga, Dal berarti tarku ad-dunyaa, yaitu menjauhi atau meninggalkan duniawi. Artinya dalam praktek orang yang ingin mendekatkan diri pada Allah, penting kiranya untuk membatasi diri dari dunia.
"Untuk kehidupan nyata tarku ad-dunyaa ini wujudnya adalah bagaimana kita membatasi pergaulan kita, kan sering kali sikap konsumerisme itu muncul karena pergaulan. Dan semula dia dalam lingkungan tertentu sederhana, tetapi begitu dia bertemu dengan lingkungan baru maka tiba-tiba dia berubah menjadi orang yang sangat sosialita. Hal ini tentu berlawanan dalam spirit sederhana," pungkasnya.
(bal)