LANGIT7.ID, Jakarta - Umat Islam harus mewaspadai bahaya
cinta dunia. Sebab kehidupan ini hanya sementara dan berbagai hal di dalamnya tak lebih dari setengah sayap nyamuk.
Nabi Muhammad SAW berpesan kepada umatnya agar tidak terlena akan kehidupan sekarang ini, apalagi sampai cinta dunia. Lalu sombong dengan berbagai hal di dunia.
Penceramah, Ustadz Abdul Somad (UAS) mengatakan, orang yang cinta dunia seperti mengagungkan dan memuliakan kehidupan dunia. Padahal bila diibaratkan hanya setengah sayap nyamuk.
Baca Juga: Pahami 5 Teori Kedudukan Harta dalam Islam, Awas Cinta Dunia"Andai kau dapat maka jangan sombong, karena dia hanya setengah sayap nyamuk. Andai tak dapat jangan sedih, karena dia pun hanya setengah sayap nyamuk," jelas dia dikutip dari kanal YouTubenya, Selasa (15/11/2022).
Untuk itu, UAS juga mengingatkan agar kaum muslimin tidak sampai mengejar dunia dengan menghalalkan segala cara. Apalagi yang akan didapatkan hanyalah setengah sayap nyamuk.
"Tangkaplah nyamuk, ambil setengah sayapnya, itulah dunia. Maka jangan sampai kau kejar dunia ini dengan cara haram," katanya.
“Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk sekalipun kepada orang kafir.” (HR. Tirmidzi).
Baca Juga: Ustadz Adi Hidayat: Allah SWT Cemburu dengan Orang Mengejar DuniaDai yang kental logat dengan logat melayunya ini mengajak kaum muslimin agar memiliki tujuan hidup untuk mengejar dan mencari akhirat. Sehingga kenikmatan dunia juga bisa didapatkan.
"Kejar dan carilah akhirat, maka dunia akan bersimpuh di bawah telapak kaki," tegasnya.
"Barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan cerai beraikan urusannya, lalu Allah akan jadikan kefakiran selalu menghantuinya, dan rezeki duniawi tak akan datang kepadanya kecuali hanya sesuai yang telah ditakdirkan saja.
Sedangkan, barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai puncak cita-citanya, maka Allah akan ringan kan urusannya, lalu Allah isi hatinya dengan kecukupan, dan rezeki duniawi mendatanginya padahal ia tak minta." (HR. Al-Baihaqi).
(bal)