LANGIT7.ID, Pasuruan - Santri dinilai sebagai seseorang yang berakhlakul karimah, paham ilmu agama, tawadhu dan selalu mengamalkan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, di luar persepsi itu terdapat budaya
ghasab yang sulit dihilangkan di kalangan santri.
Ghasab berasal dari bahasa Arab yang berarti merampas atau setengah memaksa.
Secara umum,
ghasab adalah mempergunakan barang milik orang lain dengan niatan tidak memilikinya tanpa sepengetahuan pemiliknya. Kata
ghasab sudah tidak asing di kalangan pesantren, khususnya
ghasab sandal.
Akan tetapi,
ghasab sandal ini tidak berlaku lagi di Pondok Pesantren
Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. Di pesantren ini terdapat sandal umum bertuliskan ‘khusus santri di PPS’.
Baca Juga: Alasan Mulia Pesantren Sidogiri Tak Mau Terima Bantuan Pemerintah
Sandal umum itu sudah dimulai sejak Dzulqa'dah 1442 H. Sandal ini khusus santri di Pondok Pesantren
Sidogiri saja. Biaya pengadaan sandal diperoleh dari sumbangan jemaah pesantren.
![Unik, Pesantren Sidogiri Sediakan Ribuan Sandal Umum agar Tak Ada Ghasab]()
Sandal anti-
ghasab tersebut merupakan terobosan baru pengurus untuk mengefisienkan waktu ketika turun dari masjid serta menghindari
ghasab.
Pengadaan sandal umum ini bermula saat ada seseorang yang melihat santri turun dari masjid. Dia melihat sebagian santri itu tidak langsung menemukan sandal miliknya yang menyebabkan macet.
Orang tersebut lalu mengusulkan ide agar disediakan sandal umum santri. Usulan itu pun disetujui oleh pengurus pesantren. Tidak hanya menyetujui, para pengurus Pondok Pesantren
Sidogiri juga menyumbang untuk pembelian sandal tersebut.
Kepala Madrasah Miftahul Ulum (MMU), Baihaqi Juri, lalu melakukan pemesanan. Ada beberapa desain yang diajukan. Lalu disetujui sandal warna hijau dengan tulisan ‘Khusus Santri di PPS’. Lalu dipesan 1.200 sandal ditambah 500 tali sandal.
![Unik, Pesantren Sidogiri Sediakan Ribuan Sandal Umum agar Tak Ada Ghasab]()
Baca Juga: Ponpes Sidogiri, Pesantren Tua Buah Tangan Cucu Rasulullah
Biaya yang dikeluarkan mencapai Rp72 juta lebih. Setiap pasang sandal dihargai Rp6.500. Sandal lalu diantar secara berangsur. Pada bulan Sya’ban 2000 sandal diantar ke pesantren, Ramadhan 4000, dan Syawal sebanyak 4000 juga.
Setelah terkumpul 12.000, baru diserahkan kepada pihak ketertiban dan keamanan (Tibkam) untuk didistribusikan kepada santri.
“Banyak sekali manfaat dari sandal umum ini, antara lain: efisien waktu, menghindari dosa ghasab dan hemat karena tidak perlu membeli sandal (disebabkan hilang),” kata Baihaqi, dikutip dari laman resmi Pesantren Sidogiri, Sabtu (11/6/2022).
(jqf)