LANGIT7.ID, Pasuruan - Pondok Pesantren Sidogiri merupakan bangunan tua yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Sidogiri merupakan pesantren tua yang terletak di Pasuruan, Jawa Timur. Ia telah berdiri hampit tiga abad dan lebih dikenal sebagai pesantren salaf di Indonesia
Sidogiri dikenal sebagai pesantren terbaik dalam mengelola ekonomi. Sidogiri merupakan lembaga salaf yang lebih mengedepankan pembekalan Teologi (akidah), Syariah, dan
akhlakul karimah berlandaskan Ahlussunnah wal Jama’ah baik secara Minhaju Al-Fikr dan Minhaju al-Ijtima’.
Sidogiri sudah eksis mecetak ulama ternama ternama sejak abad ke-17. Sebut saja Syekh Cholil Bangkalan, Sang Guru para Kyai Tanah Jawa. Ia merupakan salah satu dari sekian banyak ulama handal jebolan Sidogiri.
Sidogiri dikenal sebagai pesantren salaf yang maju dalam pengajaran kitab kuning menggunakan metode al-Miftah. Selain itu, Sidogiri dikenal dengan manajemen pesantren yang baik dan ekonomi syariah yang berkembang pesat. Sidogiri memiliki madrasah ranting dan setiap tahun mengirim 500-700 guru tugas dan dai ke berbagai daerah yang membutuhkan pendakwah.
Melansir dari laman resmi Sidogiri, ada dua versi terkait tahun pendirian Pesantren Sidogiri, yakni pada 1718 dan 17 45. Meski begitu. Dalam suatu catatan yang ditulis Panca Warga pada 1963 disebutkan, Sidogiri berdiri pada 1718. Catatan itu ditandatangani oleh KH Noerhasan Nawawie, KH Cholil Nawawie, dan KA Sa’doellah Nawawie pada 29 Oktober 1963.
Pada 1971, sebuah catatan yang ditandatangani KA Sa’doellah Nawawie menyebutkan bahwa 1971 merupakan hari ulang tahun Sidogiri yang ke-226. Berdasarkan catatan itu, Sidogiri berdiri pada 1745. Namun, versi terakhir ini dijadikan patokan Pesantren Sidogiri setiap akhir tahun pelajaran.
Pesantren Sidogiri didirikan oleh seorang Sayyid dari Cirebon, Jawa Barat bernama Sayyid Sulaiman. Beliau merupakan keturunan Rasulullah SAW dari marga Basyaiban. Ayah beliau, Sayyid Abdurrahman, adalah seorang perantau dari negeri wali, Tarim Hadramaut Yaman. Ibu beliau, Syarifah Khodijah, adalah putri Sultan Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati. Dari situ, dari garis ibu, Sayyid Sulaiman merupakan cucu Sunan Gunung Jati.
Saat mulai mendirikan, Saayid membabat lokasi pesantren dibantu oleh Kiai Aminullah. Kiai Aminullah adalah santri sekaligus menantu Sayyid Sulaiman yang berasal dari Pulau Bawean. Saat itu Sidogiri masih berupa hutan belantara yang tak terjamah manusia. Sidogiri dipilih untuk dibabat dan dijadikan pondok pesantren karena diyakini tanahnya baik dan berbarokah.
![Ponpes Sidogiri, Pesantren Tua Buah Tangan Cucu Rasulullah]()
Pada pertengahan abad ke-18, Sidogiri dipimpin KH Aminullah, menantu Sayyid Sulaiman. Ia memimpin pesantren sampai akhir abad ke-18. Setelah itu, Sidogiri dipimpin oleh KH Abu Darrin yang merupakan keturunan Sayyid Sulaiman.
Berdasarkan catatan laman Pesantren Sidogiri, pengasuh Pesantren Sidogiri sampai saat ini adalah Sayyid Sulaiman (wafat 1766), KH Aminullah (wafat akhir 1700-an/awal 1800-an), KH Abu Dzarrin (wafat 1800-an), KH Mahalli (wafat 1800-an), KH Noerhasan bin Noerkhotim (wafat pertengahan 1800-an), KH Bahar bin Noerhasan (wafat awal 1920-an), KH Nawawie bin Noerhasan (wafat 1929), KH Abd Adzim bin Oerip (wafat 1959), KH Abd Djalil bin Fadlil (wafat 1947), KH Cholil Nawawie (wafat 1978), KH Abd Alim Abd Djalil (wafat 2005), dan KH A Nawawi Abd Djalil (2005-sekarang).
Sistem Pendidikan SidogiriSelama kurang lebih 193 tahun, Sidogiri menggunakan system pengajian langsung kepada kiai. Namun pada masa KH Abdul Djalil, sejak 15 April 1938, Sidogiri resmi menerapkan sistem Pendidikan Ma’hadiyah dan Madrasiyah dengan mendirikan Madrasah Miftahul Ulum (MMU), sedangkan sistem ma’hadiyah berupa kegiatan pendidikan dan pengajian santri siang maupun malam hari.
Meski Sidogiri merupakan pesantren yang menggunakan system salaf dan tidak memiliki Pendidikan formal, tapi madrasah telah mendapat status muadalah (persamaan), sehingga ijazah aliyah bisa digunakan untuk kuliah.
Kegiatan ma’hadiyah meliputi kegiatan santri 24 jam seperti salat lima waktu berjamaah, salat tahajud, witir, duha secara berjamaah. Ada ada takrar (pengulangan hafalan) nazam, pengajian kitab kuning bersama pengasuh maupun pengurus, musyawarah ma’hadiyah, pendidikan baca Alquran. Kegiatan pembacaan macam-macam wirid meliputi istighfar, salawat, burdah, istighasah, Ratib al-Haddad, surah al-Kahfi, Simthu Durar, dll.
Selain itu, ada juga pengajian Ihya’ ‘Ulumiddîn, Fathul-Wahhab, Shahih Bukhari, Hasyiyah al-Bannani, dan kitab-kitab lain langsung ke pengasuh untuk tingkatan tsanawiyah dan kuliah syariah. Setiap bulan juga digelar forum-forum kajian dan diskusi ilmiah di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Studi Islam (LPSI).
Tradisi yang Patut DitiruTradisi menulis salah satu keunggulah Sidogiri. Pesantren memiliki Badan Pers Pesantren (Badan Pers Pesantren) yang bertugas mengawasi, mengkoordinir dan mengarahkan media-media terkait standar isi, tampilan desain, jadwal terbit, orientasi isi dan segmen pembaca masing-masing media pers. BPS juga bertanggungjawab atas proses seleksi dan redaksional media-media tersebut. Setidaknya ada 15 media kepenulisan yang dimiliki Pesantren Sidogiri yang meliputi buletin, majalah, dan majalah dinding.
Tak hanya itu, ada banyak buku-buku karya santri Sidogiri. Sebut saja buku Menelaah Pemikiran Agus Mustofa karya A. Qusyairi Ismail dan Moh. Achyat Ahmad yang dengan cerdas membantah pemikiran-pemikiran Agus Mustofa yang dipandang nyleneh dan menyimpang. Santri Sidogiri juga ada yang menulis bantahan atas buku Prof. Quraish Shihab yang berjudul Mungkinkah Sunni-Syiah Bersatu dalam Ukhuwah?
Melalui Penerbit Pustaka Sidogiri, pesantren ini aktif menerbitkan buku-buku agama terutama pembelaan terhadap faham aswaja yang dianut NU. Hingga saat ini lebih dari seratus judul buku telah diterbitkan baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Arab.
(asf)