LANGIT7.ID, Jakarta - Ada 3 fokus
Bank Indonesia menghadapi inflasi global saat ini. Kondisi tersebut harus disiasati secara matang, salah satunya dengan menerapkan keuangan syariah.
Indonesia sebagai mayoritas muslim memang perlu sistem manajemen
keuangan syariah. Metode ini pun diyakini Pemerintah, termasuk Bank Indonesia (BI) untuk mengatasi inflasi.
Berikut 3 fokus utama BI dalam menghadapi inflasi global:
Baca Juga: Indef Sebut Inflasi Tinggi akibat Perang Rusia-Ukraina1. Outlook economySecara keseluruhan outlook economy Indonesia dapat dikatakan positif. Hal ini dilihat dari pergerakan pada tahun ini yang diperkirakan meningkat kisaran 4,5-5,3 persen, sedangkan tahun depan 4,7-5,5 persen.
"Dengan demikian Indonesia kembali pada pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. Dukungannya tidak hanya dari domestik di mana mobilitas meningkat, tapi juga dari ekspor, investasi, dan stimulus dari fiskal dan moneter," kata Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam Seminar Mengelola Inflasi untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi, di Novotel Bali Nusa Dua, Rabu (15/6/2022).
Lebih lanjut, kondisi ini juga didukung dengan sektor eksternal yang juga positif, keseluruhan neraca pembayaran surplus, dan neraca devisa tinggi.
Di sisi lain, perbankan juga menunjukkan hal positif dan kuat. Sehingga dapat dipastikan kondisi ekonomi Indonesia tahun ini dan tahun depan cukup baik.
"Jadi untuk jangka panjang kita targetkan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, demi menuju Indonesia maju," katanya.
2. Dampak kondisi global terhadap inflasiAdapun dari pengamatan BI, kenaikan suku bunga bank central Amerika diperkirakan naik tahuh ini 250 basis point menjadi 2,75 persen. Untuk tahun depan meningkat kembali 50 basis point menjadi 3,25 persen.
"Risiko global kedua yakni harga energi dan pangan global tinggi yang kemudian berdampak terhadap inflasi dari berbagai negara," ujarnya.
Namun, dampak kenaikan harga energi dan komoditas dunia terhadap inflasi dalam negeri berbeda dengan negara lain. Indonesia sangat beruntung karena koordinasi antara pemerintah, fiskal, dan moneternya sangat kuat.
"Menyikapi harga energi dan pangan, pemerintah telah mendapatkan persetujuan DPR untuk menaikkan subsidi premium, diesel, listrik, dan berbagai subsidi LPG, serta meningkatkan bantuan sosial," katanya.
Artinya, lanjut dia, dampak dari kenaikan harga energi dan komoditas global terhadap inflasi dalam negeri masih dapat dikendalikan.
3. Respon IndonesiaRespon kebijakan, koordinasi fiskal dan moneter menjadi sangat penting. BI sendiri memiliki 5 instrumen, salah satunya kebijakan moneter yang diarahkan untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Sementara empat instrumen lainnya yakni macro prudential, sistem pembayaran, pendalaman pasar uang, dan juga UMKM ekonomi dan keuangan syariah.
"Keempatnya ini untuk pro growth atau mendorong pertumbuhan ekonomi," ujarnya.
Adapun perbedaan dampak inflasi dalam negeri dan negara lain adalah BI tidak harus terpaksa menaikkan suku bunga. Sebab, pihaknya telah melakukan normalisasi melalui likuiditas, salah satunya menaikkan giro wajib minimum.
"Giro wajib minimum kita naikkan menjadi 6 persen di bulan Juni, 7 persen di bulan Juli, dan 9 persen di bulan September. Tanpa mengganggu kemampuan perbankan menyalurkan kredit dan pembiayaan SBN," katanya.
(bal)