LANGIT7.ID, Jakarta - Tebar Al-Qur'an Braille menjadi salah satu program unggulan
Baitulmaal Muamalat (BMM) di pelosok negeri. Tantangannya, banyak penyandang tunanetra yang terkendala dalam membaca Al-Qur'an Braille.
Padahal, para tunanetra juga turut memiliki kesempatan yang sama dalam menuntut ilmu, khususnya mempelajari dan mengajarkan Al-Qur'an. Program tersebut diharapkan menjembatani para tunanetra bisa semakin dekat dengan Al-Qur'an.
"Banyak orang tunanetra yang ingin membaca Al-Qur'an, bukan hanya Al-Qur'an Braille, tapi juga pendamping," kata Pengurus Baitulmaal Muamalat (BMM), Betsy E. Jiesral, kepada LANGIT7.ID.
Para pendamping itu bertugas membimbing para tunanetra membaca Al-Qur'an hingga bisa. BMM menjadi fasilitator agar program tersebut bisa berjalan lancar. Namun, bukan berarti tak ada tantangan.
Baca Juga: BMM Fokus Tebar Manfaat hingga ke Pelosok Negeri
Betsy menuturkan, BMM biasanya menyalurkan Al-Qur'an Braille di masjid-masjid yang ada di pelosok. Kendala muncul dari situ. Sebab, bukan perkara mudah bagi seorang tunanetra melakukan perjalanan ke masjid tersebut untuk belajar ke pendamping yang telah ditunjuk.
"Tantangannya, Al-Qur'an misalnya di satu masjid, biaya transport difabel ke mesjid itu, kita harus pikirkan agar mereka bisa datang ke masjid untuk belajar," kata Betsy.
Harga satu Al-Qur'an Braille itu tak seperti mushaf pada umumnya. Menurut Betsy, satu mushaf bisa mencapai Rp2 juta. Ketebalan pun tak seperti mushaf yang kerap ditemui. Membaca Al-Qur'an Braille bagi tunanetra mirip seperti membaca huruf Braille. Hampir semua huruf Hijaiyah merupakan kombinasi dari titik Braille pada huruf latin.
Misalkan huruf Alif, formasi titik braille-nya hampir sama dengan huruf A pada huruf latin. Hanya ditambahkan satu titik lagi pada hurufnya sebagai tanda fathah, kasrah, atau dhammah.
Al-Qur'an Braille memiliki ukuran yang berbeda dengan Al-Qur'an pada umumnya. Al-Qur'an Braille lebih tebal dibandingkan pada umumnya. Al-Qur'an Braille lebih tebal dibanding Al-Qur'an biasa. Sebab, huruf Braille pada kertas tidak dapat dilakukan bolak-balik.
Baca Juga: Baitulmaal Muamalat Targetkan Penerima Zakat Naik StatusJika satu jilid Al-Qur'an dapat memuat 30 juz, kondisi ini berkebalikan dengan Al-Qur'an Braille. Satu buku atau satu jilid Al-Qur'an Braille hanya dapat memuat satu juz. Dengan begitu, 30 juz Al-Qur'an Braille dapat menghabiskan rang penyimpangan hingga satu rak buku.
"Satu Al-Qur'an sekitar Rp2 juta. Ini kan besar-besar, jadi tidak sama dengan Al-Qur'an biasa. Al-Qur'an produksi dalam negeri," kata Betsy.
(jqf)