LANGIT.ID, Jakarta - Baitulmaal Muamalat (BMM) memiliki target para penerima zakat nantinya naik status. Mereka tak selamanya menjadi mustahik, tapi ke depannya harus muzzaki.
Salah satu Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) yang ditunjuk pemerintah untuk menghimpun dan menyalurkan dana zakat, infaq, sedekah, dan wakaf (ziswaf) ini selalu memunculkan program pemberdayaan.
Direktur Eksekutif BMM, Novi Wardi mengatakan, pihaknya selalu berupaya mengelola dana ziswaf melalui berbagai program inovatif, kreatif dan berkesinambungan.
"Kami lebih berkembang dan independen sejak didirikan, dan punya banyak program di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, dakwah, kemanusiaan serta wakaf produktif," jelasnya dalam wawancara khusus dengan Langit7, Kamis (17/3/2022).
Saat ini, kata dia, pengimpunan dana ziswaf BMM lebih banyak diperoleh dari perorangan. Dia menyambut positif hal tersebut, karena semakin banyak masyarakat yang sadar secara individual akan pentingnya ziswaf.
"Artinya, kesadaran masyarakat untuk berbagi secara individual kuat. Kalau perusahaan wajar, karena ada CSR. Sedangkan masyarakat umum, itu karena keikhlasan membantu sesama," ujarnya.
BMM sendiri menarasikan pentingnya ziswaf yang harus dilakukan melalui kesadaran individu. Lembaga ini menghindari cara-cara menjual kesedihan orang lain.
"Jadi semua tergantung Allah yang membolak-balikkan hati manusia. Kuncinya adalah kepercayaan kepada lembaga, kalau mereka percaya akan memberi setiap bulan," katanya.
Adapun penyaluran dana, khususnya zakat di BMM yakni dengan memberikan modal bagi masyarakat yang memiliki kebutuhan produktif. Selain itu, BMM juga turut menyalurkan dana zakat dalam bentuk barang.
"Misalnya anak sekolah, kita kasih smartphone dan pulsa untuk kegiatan belajar. Tapi umumnya, kami memang tidak menyalurkan dalam bentuk uang, melainkan lebih kepada kebutuhan masyarakat, baik kebutuhan pokok maupun dalam bentuk pemberdayaan," ujarnya.
(bal)