LANGIT7.ID, Jakarta - Merapatnya
Partai Amanat Nasional (PAN) ke koalisi berdampak signifikan pada dinamika Pemilu 2024. Ramainya partai oposisi yang masuk ke "
circle" Istana Merdeka juga memakan ongkos politik yang mahal, mengorbankan indeks demokrasi Indonesia.
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanudin Muhtadi menjelaskan,
demokrasi yang ideal adalah seimbangnya kekuatan partai koalisi pemerintah dengan oposisi. Sebaliknya, banyaknya partai oposisi yang masuk ke pemerintah akan merugikan kepentingan demokrasi. "Kalau kita lihat apa yang menjadi dinamika koalisi di tingkat elite, beberapa tahun ke depan tidak bisa dilepaskan dari masuknya PAN secara resmi ke dalam koalisi pemerintahan," kata Burhanudin dalam Rapimnas PKS di Jakarta, Senin (20/6/2022).
Baca Juga: Gelar Rapimnas, PKS Gercep Cari Mitra KoalisiBurhanudin mengatakan perilaku partai yang tak idealis merupakan hal yang wajar. Dalam konteks koalisi presidensial multipartai, koalisi sering kali tidak bersifat ideologis, tidak permanen, dan mudah sekali berpindah pindah.
Burhanudin mencontohkan, masuknya
Gerindra ke "pelukan" Istana pada 2019 mengubah semua narasi politik pemerintahan. Pada sisi lain, hal ini secara otomatis membuat Presiden
Jokowi juga tidak memegang komitmennya yang awalnya ingin solid hanya dengan 37 persen kekuatan di parlemen.
"Karena praktis Presiden Jokowi tidak bisa menggolkan semua kebijakan di tengah koalisi oposisi yang sangat mayoritas.
Golkar masuk tahun 2015, kemudian PAN, PPP. Itu mengubah konstelasi di tingkat elit," ujarnya.
Bergabungnya PAN membuat kursi parpol koalisi pemerintah di parlemen semakin gemuk. Tambahan 44 kursi oleh PAN pada koalisi parpol pendukung menjadikan kursi koalisi seluruhnya berjumlah 471 kursi atau 82 persen kekuatan koalisi di parlemen.
Baca Juga: Nasdem Usung 3 Kandidat di Pilpres 2024, Ini Kata Presiden PKSBurhanudin menyebut porsi demokrasi semacam ini sebagai koalisi
supermajority, obesitas. Dengan demikian, kaki Presiden di parlemen akan semakin kuat.
"Lihat saja 82 persen sekarang kekuatan Presiden. Itu kalau ada satu atau dua peserta koalisi yang
deflection masih dapat 50 persen plus 1 kekuatan pemerintah di parlemen," lanjutnya.
Meski demikian, strategi politik Presiden Jokowi tidak murah. Burhandin mengatakan, gaya politik semacam itu membuat indeks demokrasi merana, terpuruk.
"Ongkosnya mahal. Apa ongkosnya? demokrasi. Indeks demokrasi kita trennya turun lebih buruk dalam 22 tahun terakhir, tapi secara stabilitas politik saya bisa katakan Presiden Jokowi menikmati posisi yang sangat dominan sebelum kasus usulan tiga periode atau penundaan pemilu," katanya.
Baca Juga:
NasDem Usung Jenderal Aktif Bakal Capres, PD Kritik Surya Paloh
Ogah Dukung Anies Baswedan Jadi Capres, PSI: Kami Anti Intoleransi(asf)