LANGIT7.ID - Nama Allah sering disebut sebagai bentuk ekspresi kaget, kagum, dan sebagainya. Namun, kerap banyak ditemukan pengguna media sosial yang menulis nama Allah dengan cara yang tidak benar.
Sering ditemui muda-mudi di dinding maya maupun kolom chat menyebut nama Allah menggunakan istilah-istilah yang diplesetkan. Misal, ada yang menulis ‘Yawla’, ‘Yawlo’, Yaoloh’, dan “Demiowoh’. Bahkan ada yang menulis ‘astajim’.
Ini tentu sangat bertentangan dengan adab kepada Allah. Di sisi lain, tulisan-tulisan semacam itu jelas dilarang dalam syariat, karena berkaitan dengan tauhid.
Tauhid dalam Islam merupakan ajaran inti. Dia ibarat akar dalam sebuah pohon. Hakikat tauhid adalah penyerahan diri, taat, menerima, dan mengagungkan Allah Azza wa Jalla.
Baca Juga: Kedahsyatan Dzikir Ya Hayyu Ya Qayyum, Doa saat Hadapi Kesulitan
“Sedangkan bersenda gurau dan mengolok-olok Allah, Al-Qur’an, dan Rasul-Nya merupakan penentangan karena tidak menunjukkan pengagungan,” akun @dianwidayanti, dikutip laman almanhaj.or.id, Jumat (24/6/2022).
Maka itu, siapa saja yang masih suka menulis nama Allah dengan plesetan-plesetan seperti itu, segera berhenti. Sebab, hal itu termasuk perbuatan main-main dengan nama Allah.
وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ لَيَقُوْلُنَّ اِنَّمَا كُنَّا نَخُوْضُ وَنَلْعَبُۗ قُلْ اَبِاللّٰهِ وَاٰيٰتِهٖ وَرَسُوْلِهٖ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِءُوْنَ لَا تَعْتَذِرُوْا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ اِيْمَانِكُمْ ۗ اِنْ نَّعْفُ عَنْ طَاۤىِٕفَةٍ مِّنْكُمْ نُعَذِّبْ طَاۤىِٕفَةً ۢ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا مُجْرِمِيْنَ
“Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman. Jika Kami memaafkan sebagian dari kamu (karena telah tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang (selalu) berbuat dosa.
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Mengapa kepada Allah, dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (QS At-Taubah: 65-66).
Para ulama mengatakan, orang kafir itu terbagi menjadi dua. Pertama,
mu’ridhun (yang berpaling). Ini termaktub dalam Surah Al-Anbiya ayat 24. Allah Ta’ala berfirman “Sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengetahui yang hak, karena mereka berpaling.”
Kedua,
Mu’aardhun (yang menentang atau membantah). Munafik atau orang kafir musyrik, yaitu mereka yang selalu melakukan penentangan dengan berbagai cara untuk memadamkan cahaya Allah. Salah satunya adalah dengan mengolok-olok atau hal serupa lainnya.
Dalam Islam, hukum mengolok-olok Allah, Al-Qur’an, dan RasulNya maka dia menjadi kafir, kufur besar. Itu artinya pelaku keluar dari agama Islam. Maka itu, orang yang mengolok-olok diperintahkan untuk segera bertaubat.
Baca Juga: Self Healing Terbaik: Dengan Mengingat Allah, Hati Jadi Tenang
Surah At-Taubah ayat 65-66 merupakan dalil, mengolok-olok Allah, Al-Qur’an, dan Rasul-Nya adalah kafir, uzurnya tidak diterima, meski berkilah hanya bergurau dan bermain-main. Sebab, mengagungkan nama Allah dan mentauhidkan-Nyam merupakan kewajiban.
Namun, pintu taubat terus terbuka bagi para pengolok-olok selama nyawa masih dikandung badan. Namun, harus disertai dengan bukti nyata atas ketulusan taubatnya, karena kufur ini adalah kekufuran yang sangat berat.
Maka itu, hendaknya setiap orang menjaga lisan dan tulisannya. Terlebih saat menyebut asma Allah, meski bercanda tidak boleh memplesetkannya sebab itu tandanya hati sama sekali tidak mengagungkan Allah.
(jqf)